Tampilkan postingan dengan label Me Time. Tampilkan semua postingan
Teman Yang Ideal
أُحِبُّ مِنَ الاِخْوَانِ كُلَّ مُوَاتِي
وَكُلَّ غَضِيْضِ الطَّرْفِ عَنْ عَثَرَتِي
Aku mendambakan teman yang sehidup semati,
mau merahasiakan kesalahan-kesalahan pribadiku.
يُوَافِقُنِي فِي كُلِّ أَمْرٍ أُرِيْدُهُ
وَيَحْفَظُنِي حَيًّا وَبَعْدَ مَمَاتِي
Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku
dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup atau selepas aku mati.
فَمَنْ لِي بِهَذَا؟ لَيْتَ أَنِّي أَصَبْتُهُ
لَقَاسَمْتُهُ مَالِى مِنَ الحَسَنَاتِ
Siapakah yang bisa berbuat begitu?
Bila aku menemukan teman yang seperti itu, tentu akan kuberikan apa saja yang kumiliki.
صَفَّحْتُ اِخْوَانِى فَكَانَ أَقَلَّهُمْ
عَلَى كَثْرَةِ الاِخْوَانِ أَهْلَ ثِقَاتِى
Aku telah banyak bergaul dengan teman-temanku,
namun yang dapat kupercaya hanya sebagian kecil dari kebanyakan mereka.
~ Diwan As-Syafi’i ~
~ Diwan As-Syafi’i ~
Hey You, I'm Curious!
Dear you,
Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.
Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.
Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.
Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?
Hey kau, Aku sungguh penasaran!
Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.
Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.
Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.
Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.
Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?
Hey kau, Aku sungguh penasaran!
Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.
I don't know your name, but I can feel you in my chest.
I don't know your face, but I know of your light as it shines from within me.
I don't know the time, nor the place where I will meet you, but I know it will happen someday.
Be Brave!
I was never afraid of falling, which I fear is wound from falls imprint
"Kakak ini gimana sih, mau bisa naik sepeda tapi nggak mau jatuh". Jika adikku berkata seperti itu aku langsung saja 'nyengir'. Well, bisa jadi gara-gara hal itu aku lantas dicibir anak manja yang penakut sehingga jika dulu adik atau kakakku pulang malam ayah dan ibu bersikap biasa saja tapi beda jika aku yang terlambat sampai kerumah, pikiran mereka begini, "Jangan-jangan anak ini diculik!". Asal kalian tahu aja, I was never really care, lol!
Yupz, sudah biasa bagiku jika sering disebut tidak bisa apa-apa, penakut, cengeng, pendiam akut, so whatever... Padahal seringkali aku bilang bahwa yang membuatku enggan itu bukan jatuh tapi luka. Aku tidak suka terluka, karena kebanyakan luka akan membekas.
Jika pemandangan luka di sekujur tubuhku saja sudah dapat membuatku frustasi maka lebih lagi luka yang bekasnya menghujam di hati. Dan jika memulai suatu hal yang aku rasa bisa membuatku jatuh saja sudah membuatku enggan, apatah lagi 'nyemplung' kedalamnya?
But wait a sec, since aku sudah memutuskan judul tulisan ini menjadi Be Brave, aku akan sedikit 'komplain' kepada orang-orang yang cenderung memiliki kesukaan mengelirukan makna dari sebuah kata. Sering kita temui orang yang berkata, "Penakut Lo sama guru aja langsung jiper. Udah bolos aja" atau "Berani gak... Ntar kita ramai-ramai bolos sekolah". Nah kan! Masih banyak contoh lain yang membuat saya 'geregetan' ingin kasih ceramah umum, lol! Tapi yang paling aneh dan tidak habis aku pikirkan adalah mereka-mereka yang mengaku pemberani lantas berkata padaku begini, "Ry, kok kamu berani sih malam-malam di kantor sendirian", atau yang paling baru "Ihh, gak takut apa naik lift sendirian di rumah sakit... kan udah banyak kejadian lohh", gubrak!
Jadi sebenarnya yang dimaksud berani dan takut itu apa?
Dalam konteks Islam, berani sering disebut dengan syaja’ah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 138) berani diartikan mempunyai hati
yang mantap dan percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan,
dsb.
Dengan demikian, berani di sini adalah berani yang bernilai positif, bukan
berani yang bernilai negatif. Lawan dari sifat syaja’ah adalah jubun (pengecut
atau penakut). Pemberani adalah orang yang berani membela kebenaran dengan
resiko apa pun dan takut untuk berbuat yang tidak benar. Sebaliknya, penakut
adalah orang yang takut membela kebenaran.
Terkait dengan sifat berani, Nabi Muhammad saw. bersabda
dalam salah satu hadisnya,
So now you see the real word! Keberanian bukan mengenai hal-hal sepele kawan.. Keberanian itu adalah dikala kau mampu menghadapi berbagai kesulitan bertubi-tubi tapi itu tidak melalaikanmu dari berkata dan bersikap yang benar.“Bukanlah dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat, sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya di waktu marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Menghadapi rasa takut perlahan dengan proses pun berbeda dengan yang menguburkannya dalam peti. Aku mungkin tidak menyukai luka, sehingga segala celah yang bisa membuahkannya seringkali kuhalangi dengan perisai setebal ari. Toh, disana-sini sudah perih penuh bekas luka. Jadi bagaimana kalau aku berkata, "Baiklah aku bersiap untuk jatuh dan tidak akan mengkhawatirkan bekas lukanya, tapi kau harus berjanji untuk selalu membalutnya bersamaku hingga tak lagi terasa".







