Popular posts

Tampilkan postingan dengan label Piece Of Moment. Tampilkan semua postingan

Sya'ir Dhuhaa


Yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada
Yang terbayang jauh bukan berarti tidak mendekat
Yang terangan tinggi bukan berarti tidak nyata
Yang ada bukan berarti tidak akan diminta

Kemudian…

Yang mendesah tidak terus resah karena ada asa
Yang menjeri tidak selalu nyeri karena ada masa
Yang membasah tidak diam bersedih karena ada doa
Yang tidak ada bukan berarti tidak bisa diminta

Kemudian…

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu
daripada yang sekarang (permulaan)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,
lalu (hati) kamu menjadi puas

Sekeranjang Hidayah

09 November 2015
Posted by Ave Ry

“Seandainya Hidayah itu bisa aku beli, maka akan ku beli berkeranjang-keranjang untuk aku bagi-bagikan kepada mereka orang-orang yang aku cintai.”
~ Imam Syafi’i Rahimahullah

Dear Diary,

Apakah kau tahu jika antara kecintaan dan kebencian hanya terpisah selapis ari? Ia hanya dibatasi oleh apa yang disebut rasa, dan rasa terletak didalam qalbu. Dan qalbu, walaupun terbentuk dari bahan yang sama, namun memiliki jenis yang berbeda.

Aku akan menceritakan satu jenis saja, Diary. Sejenis qalbu yang telah tercelup keimanan didalamnya, In syaa Allah. Ia berdenyut seirama lantunan doa, harapnya tiada lepas bergantung pada seutas tali Ilahi.

Kebahagiaannya menyemburat tatkala mendapati qalbu-qalbu lain -yang terkasih- melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Rabb Pemilik Arasy Yang Tinggi. Kebenciannya menyeruak ketika melihat Rabb Yang Maha Suci dikhianati. Lebih perih rasanya -jika kau dapat merasakannya- daripada kau aliri luka dengan perasan air asam.

Ya, sebatas itulah bahagia dan bencinya.

Teramat sangat inginnya ; menyatu seluruh keluarga, karib, kerabat dan handai taulan dalam ketaatan kepada Rabb yang tiada bercela. Betapapun terlihat mustahil, namun kepada Rabb Sang Pemilik Qalbu ia meminta.

“Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratu a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.”  ~ Imam Hasan al-Bashri



Muslimah, Bersyukurlah dalam kesabaran

30 Januari 2015
Posted by Ave Ry
“Masing-masing diri akan diuji dengan nikmat-Nya”
 Dear Diary,

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),...” An Nahl : 53

Kita terkadang lupa bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Atau dengan kata lain diuji. Hal itu tidak lain merupakan bentuk pembuktian akan penghambaan diri seseorang terhadap Rabbnya. Malah terkadang, banyak pula orang-orang yang tidak menyadari akan nikmat-Nya sehingga kelak ketika diuji mereka mempertanyakan ujian itu atas mereka. Mereka berkata, “Mengapa Kau uji aku seperti ini ya Allah?” lalu ditambah pula dengan kalimat, “Padahal hamba sudah melakukan ini dan itu”. Astaghfirullah... manusia memang tempatnya lalai, namun bukan berarti lalai itu dapat kita lestarikan dan terus berkepanjangan.

Berapa banyaknya dari para muslimah yang belum juga menemukan jodohnya, padahal jika keshalihan yang dijadikan tolak ukur, mestilah para muslimah ini berada di garis terdepan. Mereka menjaga aurat sesuai dengan perintah-Nya, mereka menjaga penghambaan diri mereka dengan ibadah untuk mengharap keridhoan-Nya, dan bahkan mereka menjaga nafsu mereka dengan mengalihkan pandangan, pikiran serta perasaan mereka dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Namun mengapa Allah malah seakan ‘mengabaikan’ mereka? Dengan tidak juga mempertemukan mereka dengan jodoh yang telah dijanjikan-Nya?

Sekali lagi, inilah bentuk kelalaian manusia. Mereka rupanya ‘lupa’ atau lalai dalam penginsyafannya. Apakah penjagaan Allah terhadap diri seseorang bukan merupakan nikmat? Betapa lancangnya seseorang yang mengatakan, “Aku sudah menjaga diriku, lantas mengapa Allah malah mengabaikanku?”. Dalam penglihatan mereka, banyak para wanita yang masa bodoh terhadap aturan agama, jangankan menutup aurat, bahkan menjaga kewajiban sholat dan puasa pun kadang tidak terlaksana, namun demikian Allah memudahkan para wanita ini dalam jodohnya. 

Lantas apanya yang salah? Kesalahan yang banyak terjadi adalah ada diantara para muslimah shalihah kufur nikmat.... mereka lalai bahwa bukan mereka yang menjaga diri mereka sendiri, namun Allah. Allah yang telah menutup rapat benteng aurat dan nafsu, Allah yang telah memudahkan dalam melaksanakan ‘amal kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Bahkan Allah yang mencondongkan hatinya, untuk mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya.

“...tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu...” Al Hujuraat : 7

Dan jika setiap nikmat itu akan diuji, maka sungguh pantas jika Allah menguji ke-terjaga-an para muslimah. Untuk membuktikan sikap tunduk penghambaan diri akan tiap taqdir yang ditetapkan atas mereka. Sikap apa yang akan diambil ketika ujian itu datang, ridhokah atau kufurkah?

Kini, pandanglah dunia dalam bentuk yang berbeda. Jika dulu kita memandang bahwa banyak wanita yang tidak taat namun dimudahkan dalam jodohnya, namun, hari ini pandanglah sekelilingmu sekali lagi. Betapa banyak para wanita yang ‘dibiarkan-Nya’, berjalan ditempat atas kualitas penghambaan mereka terhadap Allah yang ‘segitu-gitu aja’, bahkan banyak lagi para wanita yang berjalan mundur kebelakang perlahan meninggalkan hijab mereka, meninggalkan ketaatan kepada-Nya, naudzubillah.
Sekarang, masihkah kalian wahai para saudariku muslimah masih tidak bisa melihat nikmat itu dan tidak bersyukur?

Jodoh itu yaqinlah, bukan seberapa cepat ia datang, namun seberapa banyak ia menambah keimanan dan menghasilkan buah keshalihan.

16 November

16 November 2014
Posted by Ave Ry
Sabtu, 16 November 2013

“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..

Sepagian aku menuju tempat dimana rinduku membuncah selama lebih dari sebulan. Tak bisa kuceritakan betapa ingin aku berada ditengah-tengah shalih-shalihah yang selama ini telah memikatku kedalam taman surganya.

Kesempatan pagi yang kupaksakan setelah lama menjelang aku tak kuasa menyambanginya. Entah mengapa keinginan itu begitu kuat. Berminggu tangan itu menarikku, mengucapkan kalimat bening bernada memohon “Ai mau kemana... jangan tinggalin mama. Mama mohon,” minggu demi minggu sungguh tak kuasa ku melepaskan. “Mama kan disini ada Papa, Diah, ada kak Depi, ada Uwa ada banyak orang disini Ma. Aku pergi sebentar aja ya Ma”. Mashaa Allah, wajah itu merengut. Dan siapakah ia yang akan mampu meninggalkan hatinya seperti itu?

“A, Ba, Ta, Tsa... ya begitu” senyumku disamping ibu yang tengah bersusah-payah melantunkan huruf hijaiyah sembari mengarahkan kacamatanya pada buku Iqro lama. Bersandar ia, lelah “Ah susah... sekarang hafal besok lupa” keluhnya. “Gak apa, asal setiap hari nanti pasti bisa”, masih senyumku menyemangati. Terkadang aku tergelitik untuk tertawa demi mendengar pengucapannya yang salah. Namun tak pernah ku keluarkan tawa itu. “Mama lihat aku dulu, nanti mama ikuti”. Begitu, waktu demi waktu.



Dan di suatu sore yang penuh berkah ia bersandar kembali setelah lelah melafalkan huruf-huruf yang telah banyak dihafal namun semakin banyak pula yang dilupakannya. Ia menatapku, dengan sayang ia bertanya entah kepada siapa karena pandangannya menembusku, “Gimana kalau gak ada...”. Tentu saja aku tahu apa maksud pertanyaan itu. “Bagaimana kalau kamu gak ada Ai, Mama belajar sama siapa?” tapi ternyata... aku terlalu bodoh untuk bisa mengartikan, “Bagaimana kalau Mama gak ada, siapa yang akan kamu ajari Ai?”


Dilain waktu, saat sakitnya meraja hingga membuat ibu tak mampu lagi beranjak dari tempat tidur ia memandangiku, “Kamu capek ya? Mengurus Mama”. Capek? Mana mungkin ada seorang anak yang capek mengurus ibunya yang tengah sakit? Padahal dulu ibunya bertaruh nyawa demi mempertaruhkan kelangsungan hidup anaknya. Namun aku tak pandai berkata-kata, sebagai ganti ucapan kuberikan senyum, kupandangi ia, kuciumi, kuusap kepalanya.

“Ai kamu gak ikhlasin Mama sih”, tersentak aku dengan perkataannya. Setelah ramai tetangga, teman dan para handai taulan menjenguk. Aku memberengut. Kata-kata itu menyengatku! Aku benci kata itu, sungguh! Manakah ada seorang anak yang mengikhlaskan ibunya pergi?!

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, JIWA dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"

Seperti aku tak pernah membaca ayat ini sebelumnya... Hujamannya saat itu telak menikam. Aku menangis tersedu. Allah, IA berbicara kepadaku!

Kupandangi ia, ibuku yang sangat kucinta. Sore itu, saat ia tak lagi mampu berbicara, mengenal bahkan menerima suapan obat. Kupeluk erat, di belakang bahunya. Seperti yang selalu ingin dilihatnya. Ketika dulu ia masih mampu berbicara, “Ai gak sayang sama Mama.. Kamu gak pernah nangis. Mata kamu terbuat dari batu apa?!”

Rabbi, hanya Kau-lah yang mengetahui saat itu derai air mata tak mampu kubendung lagi. Ia yang kutahan berbulan-bulan, demi menjaga semangat ibuku karena aku ingin ia kuat maka akupun harus kuat. Tak ingin kutampilkan pedih mata dihadapannya. Namun sore itu, ya sore itu, setelah ramai sanak saudara pergi. Kupeluk ia erat yang tengah terlelap menyamping. Dipunggungnya, basah tangisku kuharap mampu meredam isak suara yang tak jua mereda.

“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..

Saat itu aku sudah bersiap setelah kupastikan ibu ada yang menemani, pikirku toh hanya sebentar. Ku mohon izinnya, pamitku “Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah.. Ia tak mampu lagi berkata, namun anggukan itu melegakanku. Alhamdulillah, ibu sudah memberi izin. Akhirnya pagi itu antara perasaan senang bisa pergi ke rumah kedua-ku, Masjid Raya Bogor dan cemas mengkhawatirkan ibuku.

Entah apa pula yang merasuki-ku kala itu. Berpagi aku sudah menuju. Pikiranku terbelah, do’a yang dilantunkan bersama sahabat tidak juga bisa membuatku tenang. Kemudian telepon genggamku berdering, “Kak, pulang kak” lantas mati. Jantungku berdegup kencang, namun ku hentikan aktifitas pikirku. Aku mohon izin untuk pulang lebih dulu dari yang lain. Di jalan papa menelepon, “Nak, pulang sayang. Sekarang” sungguh, aku benar-benar mematikan pikirku. Aku bergerak laksana mayat hidup.

Mengapa angkutan ini lama sekali! Mengapa kereta tak juga kunjung datang. Ditengah menggilanya perasaanku, kakak menelepon, berulang “Ai... Mama Ai...” Klik, kumatikan!
Berlarian aku menuju rumah, adikku, si bungsu menjemput mengambil alih tas.

Rabbi....

Ia disana, ibuku terbaring tak lagi bernyawa. Ditengah hilir mudik tetangga yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Mungkin tak pernah, dan memang tak pernah dan kuharap tak akan pernah. Tangis yang begitu mengguncang. Allah, Allah, Allah... jiwaku bertalu-talu, Allah, Allah, Allah. Kamu belum zhuhur Ai! Sadarku memperingati.

Kubasahi wajah berwudhu, dan tak pernah, kurasakan zhuhur yang begitu berat. Takbir, ruku’ dan sujud berbasah mengguncang seluruh tubuhku.

“Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah... Irji’ii ila Robbiki rodhiyatam mardhiyyah, fad khuli fii ‘ibadi wad khuli jannati...”

Kalimat itu, Wallahi... Kulantunkan dengan harapan, Allah, Yang Memiliki fajr juga meng-Kalam-kan ayat yang sama, kepadamu ibuku.



Sabtu 15 November 2014

“Nak, kamu gak ke Bogor?” Papa membuka percakapan pagi tadi. “Gak Pa”, jawabku singkat.

Sepagian aku menuju warung penjual sayur. Berbelanja lantas memasak, berbenah. Aku bingung hendak melakukan apa. Jiwaku tidak bergerak kemanapun jua. Semua rencana yang telah kususun, acara yang akan kudatangi tidak menarik minat hati.

Mama, aku rindu...

Hari ini, genap setahun sudah kau mendahului kami.

Ahad 16 November

You went so soon

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”

I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong

But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return

You left so soon





Closed Gate

28 Mei 2014
Posted by Ave Ry

Aku akan membiasakan, gerbang itu akan mulai kututup
Tidak hendak menunggu
Aku akan membiasakan, meredam dentang jam
Tidak hendak memperdulikan

Satu rasa tak percaya
Mengapa menjauh itu menjadi dekat?
Padahal waktuku denganmu hanya berdentang hari?

Namun aku selalu tidak bisa membenci
Selalu luluh amarahku melihat terik lelahmu, derai airmatamu

Dan kesabaran yang baiklah, aku akan membiasakan

Hey You, I'm Curious!

30 April 2014
Posted by Ave Ry
Dear you,

Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku  yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.

Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.

Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.

Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?

Hey kau, Aku sungguh penasaran!

Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.

I don't know your name, but I can feel you in my chest.

I don't know your face, but I know of your light as it shines from within me.

I don't know the time, nor the place where I will meet you, but I know it will happen someday.

Sang Penjamin

20 April 2014
Posted by Ave Ry

“Mengapa kau mengkhawatirkannya, sedang ia memiliki Penjamin?”

Dear, Diary…

Katakan aku bodoh, diantara riuh kegembiraan tertahan setitik air yang hampir tertumpah dari pelupuk mataku. Ucapan selamat itu, sungguh, tulus kuhaturkan. Tapi air mata yang hampir jatuh ini pun tidak berbohong. Entah apa namanya, aku tak tahu, maka katakan aku bodoh.

Dalam sela aku memikirkan mereka, sahabat-sahabatku. Keadaan mereka, susah dan perih yang coba kurasa. Tertimbul tanya, “Ya Rabb, bagaimana keadaan mereka? Mereka adalah shalihat…” dan selain doa juga usaha ku kerahkan untuk mencoba membantu.

Namun baru hari ini, aku tak kuasa menahan malu saat DIA kembali menyindirku, “Mengapa kau mengkhawatirkan mereka? Tidakkah kau tahu mereka memiliki Penjamin?”

Kelu hatiku… betapa naifnya selama ini menyangsikan bahkan menyisihkan keberadaan-Nya. Terlupa jika DIA adalah Sang Penjamin. Jika jodoh adalah rizqi, maka Allah-lah yang menjamin keberadaannya.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Huud : 6)

Dan hujan yang tertumpah hari ini semoga membasuh hatiku, sekali lagi. Membasuh kealpaan, menumbuhkan keyakinan. Bahwa aku dan kehidupan telah dijamin. Cukup Allah saja penjamin kehidupanku, keamanan, dan rezeki ku.... Bukan karena begitu lemahnya kekuatanku, tapi diri ini ingin melihat seyakin apa ia terhadap Tuhan-Nya.

“Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari mereka yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin : 36)

I Love You

28 Januari 2014
Posted by Ave Ry

Biarlah daun-daun itu berguguran
Siapakah yang hendak menyadarkan sebatang jiwa hampa
Ia bertegak, berlapang menopang, merindangi embun tak berhenti
Kala ramai ia bersahut penuh suara
Namun tercekat memecahkan bongkah asa ketika hening
Jika saja segunung benda, selangit karya ia punya
Niscaya akan ditukarnya dengan seulas senyum bening milik Mama

Dear diary,

Apakah kau setuju jika kubilang, “Aku tidak memiliki waktu, jadi mengapa tidak kulakukan sekarang?”.

Dalam imajinasiku sedari dulu seringkali aku menginginkan berputarnya waktu agar kembali semula, agar dapat kuperbaiki, kubenahi. Tapi seringnya imajinasi seperti itu hanya menyakiti saja. Banyak hal yang ingin aku ulang karena setelah bertahun penyesalan baru datang.

Perputaran waktu yang tak kenal perasaan membuatku terjebak dalam lubang waktu. Ingin kembali dan takut menanti. Padahal semakin banyak kuhabiskan waktu berkutat dalam lubang, semakin penyesalan tak kunjung hilang.

Tapi jika diberi satu saja kesempatan, maka aku akan melakukan satu hal yang tak pernah terucapkan walaupun sepenuh jiwa ini terisi olehnya. Aku menyesal menjadi orang yang lemah dalam merasa dan lambat dalam berkata.

Tiap helaan nafasku adalah perjuangannya, Mama. Sesosok rapuh yang diperkenalkan oleh-Nya. Sesosok rapuh yang menaungiku dengan tangis, menghiba memohon belas kasih agar aku dan adik-adikku dapat mengisi kerongkongan kami, tidak berkekurangan.

Aku sadar, tapi tak mengetahui

Tiap aliran darahku adalah kesabarannya, Mama. Sesosok rapuh yang terjalin Rahim dari-Nya. Sesosok rapuh yang tidak perduli cerca, sendirian memeluk kami dalam duka. Menjaga kami dari mereka yang menyakiti, melukai.

Aku sadar, tapi tak beraksi

Tiap detak jantungku adalah kasih sayangnya, Mama. Sesosok rapuh yang berpegangan kuat pada-Nya. Sesosok rapuh yang mengisi hariku dengan petuah, meneladani sifat bukan sekadar berkata. Mengisi ingatanku dengan limpahan makna, mencurahi segenap tenaga tanpa dirasa.

Aku sadar, tapi tak berbakti

Setelah kesudahan, memang begitu seperti kebiasaan dicipta. Penyesalan merambat karena dalam sadar tak mengetahui, tak beraksi dan tak berbakti. Setelah sesosok rapuh itu dipanggil menghadap-Nya. Yang dengan rapuhnya membuatnya lebih dicintai, karena rapuh yang ia rasa hanya ditunjukan pada DIA, Sang Maha.

Aku ingin memintamu kembali, tapi DIA lebih mencintai Mama. Aku ingin meluluskan permintaanmu yang tertunda, tapi DIA lebih memiliki banyak untuk diberi. Aku ingin melayanimu lebih lama, tapi DIA memiliki pelayan bak mutiara.

Dan pasti Sang Pemilik Batas membaca. DIA Melihat lebih banyak dari yang tertulis. Bahwa disini seorang anak manusia merindui, menunggu bagaimana caranya agar kalimat ini dapat terucap dihadapan ibunya,

“Aku sayang Mama...”

Segenap kasihku yang tidak akan pernah pantas mengembalikan jerih payahmu. Setetes air yang jatuh ini tidak akan sanggup menggantikan lelahmu. Namun hanya secarik do’a yang dapat kulantunkan, Rabbigh firli wali walidayya warham huma kama Rabbayani soghiro

Year Of Hope


Dear diary,

I’m not a Jew who hates the number of ‘13’, not even a Chinese who believes the unlucky number of ‘13’. But I do, I don’t like the number of ‘13’. And it is, 2013 the year of grief.

Terlalu banyak memory buruk disana, terlalu banyak airmata. Mendesakku ke ujung titik kulminasi dimana hampir-hampir kesedihan itu membuatku gila. Tahun yang mengoyak isi perutku dan menjungkir balikkan kepalaku. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak, kehilangan ibu.
Bagi yang sudah pernah mengalami, maka kau tahu seperti apa rasanya. Tapi bagi yang belum mengalami maka kau tidak akan pernah dapat membayangkannya
Dan peristiwa yang mengiringi akhir tahun 2013 semakin menumpuk, salah satunya kehilangan pekerjaan.

Namun terlarut dalam kesedihan bukanlah akhlaq yang baik. Aku teringat satu ayat selurut umat,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,

 إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Dalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.” Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.

Allah Ta’ala berfirman,

 سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)

Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.” Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.” Rasulullah bersabda, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً “Bersama kesulitan, ada kemudahan.” Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Nah, bukankah Allah Subhana wa Ta’ala sendiri sudah menjanjikan? Tepat di akhir Januari awal tahun 2014 ini aku diterima bekerja, bahkan ditempat dan lingkungan yang lebih baik. Aku akan dapat mendengar anak-anak manis seharian dan juga guru-guru yang bersahaja. And guess what? Satu hal yang membuat dada ini berdegup penuh semangat dengan senyum menghias. Buku pertamaku akan segera terbit! Subahanallah… Awal tahun yang penuh harapan

Dear you

20 September 2013
Posted by Ave Ry

Dear you, 

Hmmm, merasa sedikit nervous, kau tau? This is my first letter, for you. Terasa aneh saat jemariku menari diatas tuts, but I’ve got few words to say, for you. Pasti kau pun merasa aneh, hmm tapi bagaimana lagi? I miss, you. 

Biasanya saat malam seperti ini aku menghadirkan berjuta gelembung tanya, tanya pada DIA, Rabb kita. Hal yang menjagaku dari mereka. Karena dengan bertanya dan dijawab-Nya akan mengalihkan perhatianku, from you, dan juga mereka. 

Atau kalau aku sedang menggelisah maka sebait kata kutuliskan teruntuk-Nya. Ya, sudah banyak surat yang ku’layang’kan untuk-Nya, Rabb kita. 

Dear you, 

Jika aku meminta kau keluar sejenak apakah bisa? Angkat kepalamu sedikit dan perhatikan satu bintang, ya, tunjuk saja satu bintang, satu bintang yang paling terang. 


Orang-orang mengatakan kalau namanya syria - Sirius -, tapi aku lebih suka mengenalnya dengan nama “Asy-Syi’Ra” karena begitulah DIA, Rabb kita menamainya. 

“Dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra” 
An Najm : 49 

Bintang paling terang dilangit malam, memberikan petunjuk kepada mereka dalam kelam 

Jika dulu mereka memujanya, maka kini aku memuji-Nya. Mengapa DIA? Kumohon, bertanyalah… 

Syi’Ra dulu dipersangka-kan salah karena terangnya, lantas DIA membetulkan. Karena indah terangnya berasal dari DIA maka hanya DIA yang patut dipuji, ya bukan memujanya! 

Jangan bingung, kuharap… aku hanya ingin mengatakan; Bahwa jika mereka atau kau salah, maka DIA selalu benar, DIA tak pernah salah mengenal. . . 

Dan jika mereka atau kau menyukai terangnya, maka jangan memujanya! Tapi pujilah DIA. Karena pujianmu laksana gelombang yang akan mengalir dan diteruskan. Untuk-Nya, lalu aku merasa. 

Dan disanalah, mengalir gelombang rasa – kau tau – lantas bermuara. Bermuara menjadi satu bintang baru, STARYU. 

Star – Ry – U 

Bintang kita… saat aku dan kau membersamai terangnya, saat kau dan aku mengkilaukannya, bersama. 

Dear you, 

Aku tak masalah jika kau berlama, karena aku tau DIA hendak mem-baik-kan kita, agar kelak bisa menjadi langit bagi bintang tercinta kita. Yang bahkan ke-belum berada-annya sudah kurindukan, apakah kau juga? 

Dan malam ini aku ingin mengatakan, 

“Find me, aku ingin menuntunmu untuk sampai kepadaku, tapi aku tak bisa berlaku seperti mereka itu. Diamku adalah gugup, sapaku adalah malu. Jadi tolonglah, jangan memaksaku. Perjelas katamu, tunjukkan padaku. Kenali aku, tegaskan pilihanmu” 

Itu saja… 




Second Chances

15 September 2013
Posted by Ave Ry

“Ma Allah ma…” 

Kuredam isakan yang membumbung dikepala. Aku memampukan diri untuk menguasai hati disaat adik dan kakak sepupuku terisak jerit, mengucap istighfar. 

“Mana kakak, mama mau ketemu kakak” 

“Iya ma nanti ketemu kakak. Tapi mama sembuh dulu” 

Semakin tak kuasa saat mata ibuku nyalang, entah apa yang dilihatnya, kemudian menangis.. 

“Mama capek, mau istirahat. Itu emak, bapak sama umi…” 

Semakin menjadi panik kami bertiga, dan si kecil Savira yang tidak mengerti apa-apa hanya diam memaku, karena ketiga nama yang disebutkan ibuku sudah meninggal bertahun lalu. 

“Allah ma… Allah… Allahu Akbar… Asyhadu ala ila ha ilallah…” 

Dalam gumamku yang teredam aku tidak ingin beranjak sekejap jua dari telinganya. Kubisikan berulang kali, kata yang sama “Allah” 

Disaat aku tak mampu berpikir, kata-kata yang kukeluarkan justru mampu menjadi penopang kuatku. Matakupun tak beranjak memperhatikan bibir ibuku. Dan takkan kubiarkan satu hela dari ucapan selain “Allah…” 

“Ya Rabbi… Anta Syafii… Syafakillaha…” 

Sungguh saat itu aku tak mampu menggunakan pikir selain melantunkan permohonan yang sangat kepada Rabb Yang Maha Baik. Aku tak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Nya, dan kali ini pun aku menggantungkan harap hanya kepada-Nya

Setahuku, ya, walau sedikit yang kutahu… dalam keadaan seperti saat itu adalah saat dimana malaikat maut bertamu. Disaat seseorang tak sadarkan diri, matanya memperhatikan langit-langit dan menyebutkan nama-nama yang telah tiada lantas berkata, “Capek, ingin istirahat, ingin pulang”. 

Maka dari itu dengan segenap kekuatan yang kupunya aku bertalqin untuk ibuku, aku ingin mengantarkan ibuku ke surga-Nya 

Tapi hati kecilku terus meraung, “Ya Rabbi apakah Engkau akan menjadikan aku anak yang tak berbakti? Aku belum pernah membalas budi kepada ibuku, aku belum mampu membahagiakannya. Aku belum mampu meluluskan inginnya.” 

Menit berlalu bagaikan berbulan, letih kedua mataku tak berbilang. Dan ternyata, seperti selalu, Rabbku Maha Baik, IA menerima permohonanku. Menit berikutnya aku masih diberi kesempatan, ibuku sadar… 

“Yaa Rabbi… Anta Syafii… Syafakillaha…”

Kami pun segera membawanya ke RSCM. Memori buruk tentang RSCM tidak pun kami risaukan. 

Aku tahu tidak sebanyak yang dokter tahu. Tapi aku tahu lebih banyak dari pada saudara-saudaraku. Bahwa penyakit ini… ah, sudahlah, aku bahkan tidak mampu untuk sekadar merisau. 

Yang kutahu bahwa DIA, Rabb Yang Maha Sempurna, telah memberikan kesempatan kedua kepada ibuku, padaku, pada kami. Pada ibuku agar lebih banyak dosa yang digugurkan-Nya, padaku untuk berbuat lebih, dan pada kami agar semakin erat menyatu dalam asa yang sama, kesembuhan ibuku. 

 “Ma, you deserve better than we give”, so do not ever and never say, “Mama nyusahin kalian ya?” 

Karena Mama tidak pernah menyusahkan kami, tapi kami yang selalu menyusahkan Mama. 

Dan aku mohon, bersabarlah… 

Allah tidak pernah berkehendak untuk menyakitimu, karena hatimu begitu mulia. Jikalau usiamu sudah tertera habis sejak kemarin, maka aku yakin DIA memberikan ‘bonus’ atas panjangnya tali silaturahim yang kau ulurkan. ‘bonus’ atas qonaahmu terhadap dunia, ‘bonus’ atas sabarmu dalam uji-Nya. 

“Ya Rabbi, mungkin tinta ini adalah seburuk-buruk warna. Tapi melalui tinta ini aku hendak mengetuk pintu-Mu. Karena kemana lagi hendak ku mengetuk selain pintu-Mu saja, yang selalu terbuka. Seperti pintaku dulu-dulu. Masih aku meminta agar Engkau memampukan aku agar menjadi seorang manusia yang tahu membalas budi, dan sebaik-baik budi yang pernah sampai padaku adalah melalui ibuku. Aku mencitakan untuk menggamit lengannya, memandunya untuk bertalbiyah, bersama-sama mengunjungi Rumah-Mu Yang Mulia di dunia. Sampaikan kami Ya Rabb, sampaikan kami. Rinduku menggenang untuk memenuhi seruan para nabi mulia terdahulu. Labbaik… labbaik…” 

"Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman"

I'm Dying!

26 Agustus 2013
Posted by Ave Ry
 

“You can test me with something else, anything, but not with my mother” 
 Teori, tak semudah praktek. Jika teori mengajarkan kita begitu sempurna akan rumus-rumus matematika dalam mendirikan sebuah bangunan. Jika saja teori skala lebih utama, maka tidak akan ada seorang arsitektur, right?

Seseorang dituntut lebih dari sekadar mempelajari apa yang tertulis dari buku teksnya, tapi ia harus mumpuni dalam praktek kerja. Dalam mata pelajaran apapun itu, bahkan dalam pelajaran hidup laku di dunia. Jika kita menghabiskan setumpuk buku untuk satu bahasan ilmiah, tapi kita hanya diberikan ‘satu jeda’ dalam Al Qur’an untuk mengaplikasikannya di dunia.

Ya, hanya ‘satu jeda’. Dan jika dalam buku-buku ilmiah itu menuntutmu untuk bekerja dengan serius baru terbukti teorinya, maka dalam bahasan ‘satu jeda’ Al Qur’an, kita bukan hanya dituntut untuk sekadar serius tapi juga melibatkan keseluruhan jiwa insani kita. Laku kita, gerak, asa. Benar-benar lebih dari sekadar menguras tenaga!

Dan dalam beberapa hari ini aku merasakannya diary , I’m Dying! Yes, I’m dying, teori ‘satu jeda’ ini mengusikku. Meruntuhkan semangatku yang biasanya selalu berkobar walau dalam keadaan apapun. Allah SWT kali ini ingin mengujiku dengan mata pelajaran SABAR. Yang anehnya sudah kutuliskan makalahnya di blog Gen-Q, dalam Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolong.

Tapi teori tinggal teori…

Karena kemarin aku mengalami ketakutan yang amat sangat, aku panik, aku bingung, dan tidak usah kau bertanya tentang rasa sedih, karena kesedihan yang bercampur dengan ketakutan dan rasa putus asa tidak akan dapat terlukiskan.

Ibuku sakit diary …

Bukan, bukan sakit biasa atau karena faktor usia. Tapi sakit yang menyebabkan beliau begitu sengsara. Perutnya membesar, mengeras hingga tidak ada yang dapat dikeluarkan apa yang seharusnya keluar. Bermalam-malam tidak dapat tidur, mengaduh.

Berkali aku meminta, “Ya Rabb, pindahkan saja, pindahkan saja penyakitnya padaku” Sampai tiga hari kemarin semakin parah, aku pun tidak fokus pada hal lainnya, terlewat saja siapapun yang menyapaku, seakan aku menjadi mayat hidup!

Sampai menjelang malam kami semua berkumpul dan memutuskan akan membawa beliau untuk segera memeriksakan bagian dalam melalui USG. Seharusnya pagi, tapi entahlah. Bagi Indonesia kata antri itu benar-benar hal yang sakral, apalagi dalam sebuah institusi rumah sakit pemerintah. Inginnya aku melempar saja petugas yang menolak kami untuk mendaftar dengan alasan “Untuk penyakit dalam hanya ada satu dokter, makanya kami membatasi hanya 50 orang pasien saja. Dan hari ini sudah penuh” dengan sebotol air mineral! (karena jika segelas akan menyamai Munarman untuk Tamagola)

Tapi ya sudahlah, memang harus menuju rumah sakit swasta. Dan ketika selesai pemeriksaan makin membuat perutku ‘Nyess’, mencelos. Menurut dokter ahli itu melalui sebuah alat ada sumbatan berupa cairan. Ususnya membengkak, sehingga makanan atau minuman yang masuk melewati mulut tidak tercerna dengan baik. Ia akan ‘menumpuk’ di saluran tadi sehingga ginjal tidak mendapatkan aliran darah sebagaimana mestinya dan itu berangsur akan membuat ginjal rusak.

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali” (Al Baqarah – 155-156)

Ya Rabb, Anta Syafii… Bukannya hamba-Mu ini tidak sabar, ia hanya takut, persis seperti yang KAU kalamkan dalam ayat-Mu. Tapi sungguh, jangan ini, jangan yang ini, jangan ujikan dengan ini. Belum sanggup hamba-Mu ini berucap seperti apa yang KAU ajarkan.

Aku bisa sekarat, I’m dying… Just don’t leave me this way because I’m just not enough to hold this alone