Tampilkan postingan dengan label Piece Of Moment. Tampilkan semua postingan
Sya'ir Dhuhaa
Yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada
Yang terbayang jauh bukan berarti tidak mendekat
Yang terangan tinggi bukan berarti tidak nyata
Yang ada bukan berarti tidak akan diminta
Kemudian…
Yang mendesah tidak terus resah karena ada asa
Yang menjeri tidak selalu nyeri karena ada masa
Yang membasah tidak diam bersedih karena ada doa
Yang tidak ada bukan berarti tidak bisa diminta
Kemudian…
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu
daripada yang sekarang (permulaan)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,
lalu (hati) kamu menjadi puas
Sekeranjang Hidayah
“Seandainya Hidayah itu bisa aku beli, maka akan ku beli berkeranjang-keranjang untuk aku bagi-bagikan kepada mereka orang-orang yang aku cintai.”
~ Imam Syafi’i Rahimahullah
Dear Diary,
Apakah kau tahu jika antara kecintaan dan kebencian hanya terpisah selapis ari? Ia hanya dibatasi oleh apa yang disebut rasa, dan rasa terletak didalam qalbu. Dan qalbu, walaupun terbentuk dari bahan yang sama, namun memiliki jenis yang berbeda.
Aku akan menceritakan satu jenis saja, Diary. Sejenis qalbu yang telah tercelup keimanan didalamnya, In syaa Allah. Ia berdenyut seirama lantunan doa, harapnya tiada lepas bergantung pada seutas tali Ilahi.
Kebahagiaannya menyemburat tatkala mendapati qalbu-qalbu lain -yang terkasih- melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Rabb Pemilik Arasy Yang Tinggi. Kebenciannya menyeruak ketika melihat Rabb Yang Maha Suci dikhianati. Lebih perih rasanya -jika kau dapat merasakannya- daripada kau aliri luka dengan perasan air asam.
Ya, sebatas itulah bahagia dan bencinya.
Teramat sangat inginnya ; menyatu seluruh keluarga, karib, kerabat dan handai taulan dalam ketaatan kepada Rabb yang tiada bercela. Betapapun terlihat mustahil, namun kepada Rabb Sang Pemilik Qalbu ia meminta.
Aku akan menceritakan satu jenis saja, Diary. Sejenis qalbu yang telah tercelup keimanan didalamnya, In syaa Allah. Ia berdenyut seirama lantunan doa, harapnya tiada lepas bergantung pada seutas tali Ilahi.
Kebahagiaannya menyemburat tatkala mendapati qalbu-qalbu lain -yang terkasih- melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Rabb Pemilik Arasy Yang Tinggi. Kebenciannya menyeruak ketika melihat Rabb Yang Maha Suci dikhianati. Lebih perih rasanya -jika kau dapat merasakannya- daripada kau aliri luka dengan perasan air asam.
Ya, sebatas itulah bahagia dan bencinya.
Teramat sangat inginnya ; menyatu seluruh keluarga, karib, kerabat dan handai taulan dalam ketaatan kepada Rabb yang tiada bercela. Betapapun terlihat mustahil, namun kepada Rabb Sang Pemilik Qalbu ia meminta.
“Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratu a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.” ~ Imam Hasan al-Bashri
Muslimah, Bersyukurlah dalam kesabaran
“Masing-masing diri akan diuji dengan nikmat-Nya”
Dear Diary,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),...” An Nahl : 53
Kita terkadang lupa bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Atau dengan kata lain diuji. Hal itu tidak lain merupakan bentuk pembuktian akan penghambaan diri seseorang terhadap Rabbnya. Malah terkadang, banyak pula orang-orang yang tidak menyadari akan nikmat-Nya sehingga kelak ketika diuji mereka mempertanyakan ujian itu atas mereka. Mereka berkata, “Mengapa Kau uji aku seperti ini ya Allah?” lalu ditambah pula dengan kalimat, “Padahal hamba sudah melakukan ini dan itu”. Astaghfirullah... manusia memang tempatnya lalai, namun bukan berarti lalai itu dapat kita lestarikan dan terus berkepanjangan.
Berapa banyaknya dari para muslimah yang belum juga menemukan jodohnya, padahal jika keshalihan yang dijadikan tolak ukur, mestilah para muslimah ini berada di garis terdepan. Mereka menjaga aurat sesuai dengan perintah-Nya, mereka menjaga penghambaan diri mereka dengan ibadah untuk mengharap keridhoan-Nya, dan bahkan mereka menjaga nafsu mereka dengan mengalihkan pandangan, pikiran serta perasaan mereka dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Namun mengapa Allah malah seakan ‘mengabaikan’ mereka? Dengan tidak juga mempertemukan mereka dengan jodoh yang telah dijanjikan-Nya?
Sekali lagi, inilah bentuk kelalaian manusia. Mereka rupanya ‘lupa’ atau lalai dalam penginsyafannya. Apakah penjagaan Allah terhadap diri seseorang bukan merupakan nikmat? Betapa lancangnya seseorang yang mengatakan, “Aku sudah menjaga diriku, lantas mengapa Allah malah mengabaikanku?”. Dalam penglihatan mereka, banyak para wanita yang masa bodoh terhadap aturan agama, jangankan menutup aurat, bahkan menjaga kewajiban sholat dan puasa pun kadang tidak terlaksana, namun demikian Allah memudahkan para wanita ini dalam jodohnya.
Lantas apanya yang salah? Kesalahan yang banyak terjadi adalah ada diantara para muslimah shalihah kufur nikmat.... mereka lalai bahwa bukan mereka yang menjaga diri mereka sendiri, namun Allah. Allah yang telah menutup rapat benteng aurat dan nafsu, Allah yang telah memudahkan dalam melaksanakan ‘amal kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Bahkan Allah yang mencondongkan hatinya, untuk mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya.
“...tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu...” Al Hujuraat : 7
Dan jika setiap nikmat itu akan diuji, maka sungguh pantas jika Allah menguji ke-terjaga-an para muslimah. Untuk membuktikan sikap tunduk penghambaan diri akan tiap taqdir yang ditetapkan atas mereka. Sikap apa yang akan diambil ketika ujian itu datang, ridhokah atau kufurkah?
Kini, pandanglah dunia dalam bentuk yang berbeda. Jika dulu kita memandang bahwa banyak wanita yang tidak taat namun dimudahkan dalam jodohnya, namun, hari ini pandanglah sekelilingmu sekali lagi. Betapa banyak para wanita yang ‘dibiarkan-Nya’, berjalan ditempat atas kualitas penghambaan mereka terhadap Allah yang ‘segitu-gitu aja’, bahkan banyak lagi para wanita yang berjalan mundur kebelakang perlahan meninggalkan hijab mereka, meninggalkan ketaatan kepada-Nya, naudzubillah.
Sekarang, masihkah kalian wahai para saudariku muslimah masih tidak bisa melihat nikmat itu dan tidak bersyukur?
Jodoh itu yaqinlah, bukan seberapa cepat ia datang, namun seberapa banyak ia menambah keimanan dan menghasilkan buah keshalihan.
16 November
Sabtu, 16 November 2013
Mama, aku rindu...
Hari ini, genap setahun sudah kau mendahului kami.
Ahad 16 November
You went so soon
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return
You left so soon
“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..
Sepagian aku menuju tempat dimana rinduku membuncah selama lebih dari sebulan. Tak bisa kuceritakan betapa ingin aku berada ditengah-tengah shalih-shalihah yang selama ini telah memikatku kedalam taman surganya.
Kesempatan pagi yang kupaksakan setelah lama menjelang aku tak kuasa menyambanginya. Entah mengapa keinginan itu begitu kuat. Berminggu tangan itu menarikku, mengucapkan kalimat bening bernada memohon “Ai mau kemana... jangan tinggalin mama. Mama mohon,” minggu demi minggu sungguh tak kuasa ku melepaskan. “Mama kan disini ada Papa, Diah, ada kak Depi, ada Uwa ada banyak orang disini Ma. Aku pergi sebentar aja ya Ma”. Mashaa Allah, wajah itu merengut. Dan siapakah ia yang akan mampu meninggalkan hatinya seperti itu?
“A, Ba, Ta, Tsa... ya begitu” senyumku disamping ibu yang tengah bersusah-payah melantunkan huruf hijaiyah sembari mengarahkan kacamatanya pada buku Iqro lama. Bersandar ia, lelah “Ah susah... sekarang hafal besok lupa” keluhnya. “Gak apa, asal setiap hari nanti pasti bisa”, masih senyumku menyemangati. Terkadang aku tergelitik untuk tertawa demi mendengar pengucapannya yang salah. Namun tak pernah ku keluarkan tawa itu. “Mama lihat aku dulu, nanti mama ikuti”. Begitu, waktu demi waktu.
Dan di suatu sore yang penuh berkah ia bersandar kembali setelah lelah melafalkan huruf-huruf yang telah banyak dihafal namun semakin banyak pula yang dilupakannya. Ia menatapku, dengan sayang ia bertanya entah kepada siapa karena pandangannya menembusku, “Gimana kalau gak ada...”. Tentu saja aku tahu apa maksud pertanyaan itu. “Bagaimana kalau kamu gak ada Ai, Mama belajar sama siapa?” tapi ternyata... aku terlalu bodoh untuk bisa mengartikan, “Bagaimana kalau Mama gak ada, siapa yang akan kamu ajari Ai?”
Dilain waktu, saat sakitnya meraja hingga membuat ibu tak mampu lagi beranjak dari tempat tidur ia memandangiku, “Kamu capek ya? Mengurus Mama”. Capek? Mana mungkin ada seorang anak yang capek mengurus ibunya yang tengah sakit? Padahal dulu ibunya bertaruh nyawa demi mempertaruhkan kelangsungan hidup anaknya. Namun aku tak pandai berkata-kata, sebagai ganti ucapan kuberikan senyum, kupandangi ia, kuciumi, kuusap kepalanya.
“Ai kamu gak ikhlasin Mama sih”, tersentak aku dengan perkataannya. Setelah ramai tetangga, teman dan para handai taulan menjenguk. Aku memberengut. Kata-kata itu menyengatku! Aku benci kata itu, sungguh! Manakah ada seorang anak yang mengikhlaskan ibunya pergi?!
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, JIWA dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"
Seperti aku tak pernah membaca ayat ini sebelumnya... Hujamannya saat itu telak menikam. Aku menangis tersedu. Allah, IA berbicara kepadaku!
Kupandangi ia, ibuku yang sangat kucinta. Sore itu, saat ia tak lagi mampu berbicara, mengenal bahkan menerima suapan obat. Kupeluk erat, di belakang bahunya. Seperti yang selalu ingin dilihatnya. Ketika dulu ia masih mampu berbicara, “Ai gak sayang sama Mama.. Kamu gak pernah nangis. Mata kamu terbuat dari batu apa?!”
Rabbi, hanya Kau-lah yang mengetahui saat itu derai air mata tak mampu kubendung lagi. Ia yang kutahan berbulan-bulan, demi menjaga semangat ibuku karena aku ingin ia kuat maka akupun harus kuat. Tak ingin kutampilkan pedih mata dihadapannya. Namun sore itu, ya sore itu, setelah ramai sanak saudara pergi. Kupeluk ia erat yang tengah terlelap menyamping. Dipunggungnya, basah tangisku kuharap mampu meredam isak suara yang tak jua mereda.
“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..
Saat itu aku sudah bersiap setelah kupastikan ibu ada yang menemani, pikirku toh hanya sebentar. Ku mohon izinnya, pamitku “Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah.. Ia tak mampu lagi berkata, namun anggukan itu melegakanku. Alhamdulillah, ibu sudah memberi izin. Akhirnya pagi itu antara perasaan senang bisa pergi ke rumah kedua-ku, Masjid Raya Bogor dan cemas mengkhawatirkan ibuku.
Entah apa pula yang merasuki-ku kala itu. Berpagi aku sudah menuju. Pikiranku terbelah, do’a yang dilantunkan bersama sahabat tidak juga bisa membuatku tenang. Kemudian telepon genggamku berdering, “Kak, pulang kak” lantas mati. Jantungku berdegup kencang, namun ku hentikan aktifitas pikirku. Aku mohon izin untuk pulang lebih dulu dari yang lain. Di jalan papa menelepon, “Nak, pulang sayang. Sekarang” sungguh, aku benar-benar mematikan pikirku. Aku bergerak laksana mayat hidup.
Mengapa angkutan ini lama sekali! Mengapa kereta tak juga kunjung datang. Ditengah menggilanya perasaanku, kakak menelepon, berulang “Ai... Mama Ai...” Klik, kumatikan!
Berlarian aku menuju rumah, adikku, si bungsu menjemput mengambil alih tas.
Rabbi....
Ia disana, ibuku terbaring tak lagi bernyawa. Ditengah hilir mudik tetangga yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Mungkin tak pernah, dan memang tak pernah dan kuharap tak akan pernah. Tangis yang begitu mengguncang. Allah, Allah, Allah... jiwaku bertalu-talu, Allah, Allah, Allah. Kamu belum zhuhur Ai! Sadarku memperingati.
Kubasahi wajah berwudhu, dan tak pernah, kurasakan zhuhur yang begitu berat. Takbir, ruku’ dan sujud berbasah mengguncang seluruh tubuhku.
“Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah... Irji’ii ila Robbiki rodhiyatam mardhiyyah, fad khuli fii ‘ibadi wad khuli jannati...”
Kalimat itu, Wallahi... Kulantunkan dengan harapan, Allah, Yang Memiliki fajr juga meng-Kalam-kan ayat yang sama, kepadamu ibuku.
Sabtu 15 November 2014
“Nak, kamu gak ke Bogor?” Papa membuka percakapan pagi tadi. “Gak Pa”, jawabku singkat.
Sepagian aku menuju warung penjual sayur. Berbelanja lantas memasak, berbenah. Aku bingung hendak melakukan apa. Jiwaku tidak bergerak kemanapun jua. Semua rencana yang telah kususun, acara yang akan kudatangi tidak menarik minat hati.
Mama, aku rindu...
Hari ini, genap setahun sudah kau mendahului kami.
Ahad 16 November
You went so soon
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return
You left so soon
Closed Gate
Aku akan membiasakan, gerbang itu akan mulai kututup
Tidak hendak menunggu
Aku akan membiasakan, meredam dentang jam
Tidak hendak memperdulikan
Satu rasa tak percaya
Mengapa menjauh itu menjadi dekat?
Padahal waktuku denganmu hanya berdentang hari?
Namun aku selalu tidak bisa membenci
Selalu luluh amarahku melihat terik lelahmu, derai airmatamu
Dan kesabaran yang baiklah, aku akan membiasakan
Hey You, I'm Curious!
Dear you,
Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.
Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.
Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.
Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?
Hey kau, Aku sungguh penasaran!
Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.
Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.
Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.
Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.
Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?
Hey kau, Aku sungguh penasaran!
Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.
I don't know your name, but I can feel you in my chest.
I don't know your face, but I know of your light as it shines from within me.
I don't know the time, nor the place where I will meet you, but I know it will happen someday.














