Popular posts

Tampilkan postingan dengan label Words Into. Tampilkan semua postingan

Teman Yang Ideal

31 Agustus 2015
Posted by Ave Ry

أُحِبُّ مِنَ الاِخْوَانِ كُلَّ مُوَاتِي
وَكُلَّ غَضِيْضِ الطَّرْفِ عَنْ عَثَرَتِي

Aku mendambakan teman yang sehidup semati,
mau merahasiakan kesalahan-kesalahan pribadiku.

يُوَافِقُنِي فِي كُلِّ أَمْرٍ أُرِيْدُهُ
وَيَحْفَظُنِي حَيًّا وَبَعْدَ مَمَاتِي

Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku
dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup atau selepas aku mati.

فَمَنْ لِي بِهَذَا؟ لَيْتَ أَنِّي أَصَبْتُهُ
لَقَاسَمْتُهُ مَالِى مِنَ الحَسَنَاتِ

Siapakah yang bisa berbuat begitu?
Bila aku menemukan teman yang seperti itu, tentu akan kuberikan apa saja yang kumiliki.

صَفَّحْتُ اِخْوَانِى فَكَانَ أَقَلَّهُمْ
عَلَى كَثْرَةِ الاِخْوَانِ أَهْلَ ثِقَاتِى

Aku telah banyak bergaul dengan teman-temanku,
namun yang dapat kupercaya hanya sebagian kecil dari kebanyakan mereka.

~ Diwan As-Syafi’i ~



Do You Really Know Me?

22 Agustus 2013
Posted by Ave Ry

Yes, you have talk to me, reading what I share, and you've heard about me. But dude, do you know exactly what I have been through? Understand what I'm doing is coming from a cause.

Mengenal, sampai saat ini aku masih penasaran bagaimana kisah selanjutnya antara Nabi Musa a.s dengan seseorang yang penuh hikmah, dalam hadist beliau dikisahkan bernama Khidir. Dalam Al Qur'an disebutkan betapa Nabi Musa kerap protes dengan sikap Khidir a.s yang kerap membuat beliau gusar. 

Telah terjadi misconception antara mereka, antara yang telah MENGALAMI dan belum. Yang belum mengalami perihal sesuatu terbiasa untuk melontarkan kalimat-kalimat yang kadang painful. Cobalah sejenak membaca kisah Imam As-Syafi'i, bagaimana perilaku beliau membuat gusar putri Ahmad bin Hambal.

Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu.
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Ahmad, putrinya lalu membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal.

Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu.

Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i.

Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap beliau berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.”

“Kenapa begitu, wahai guru?”

“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi orang islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.”
 
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.”

Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun, wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.”

Kisah diatas adalah tentang perilaku yang sepintas membuat orang lain salah sangka, apakah lagi ketika ia hanya berupa KATA? pasti lebih banyak lagi yang disalah tafsirkan.Maka jika kita melihat perkara yang tidak sesuai dengan laku kebanyakan, carilah seribu alasan untuk tidak langsung menghakiminya. Untukmu, "HUSNUZON"