Popular posts

Tu es Ma Priere

27 Februari 2018
Posted by Ave Ry
Aku ingin, menjadi tulisan
Yang kau tuangkan sepenuh hati
Aku ingin, menjadi bacaan
Yang kau baca berulang kali

Kepada setiap kata
Kepada baris rima
Kepada sela dan tiap jeda

Aku ingin, menyisipkan imbuhan
Yang berisi doa
Aku ingin, mendeskripsikan paragraf
Dan menuntaskan cerita

Namun ketika kertas kuangkat
Ternyata yang kulihat hanyalah noktah


اَللهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّىْ وَعَلاَنِيَتِىْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِىْ 

Musytaq

23 Februari 2018
Posted by Ave Ry
Hasil gambar untuk miss her mom

Terkadang aku rindu, berdua-dua denganmu, mendengar keluh kesahmu, ibu. Belajar membaca a-ba-ta-tsa, denganku. 

Tapi jika kulakukan, aku semakin lemah. Sebelum segala janji kupenuhi engkau malah pergi meninggalkanku, hingga hilanglah semangatku.

Namun kurasa Dia ingin mengajariku. Betapa salah niatku dulu, meletakkan engkau sebagai tujuan utamaku.

Padahal Dia adalah Maha Pencemburu. Hingga sampai sekarang pun aku kebingungan bagaimana caraku bertahan?

Semoga amarah-Nya padaku lebih dari padamu. Karena ketika kau berpaling, tidak ada yang menyakitiku lebih dari pada itu.


رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” 

Al-Baqarah : 286

Ode To A Nightingale

25 Agustus 2016
Posted by Ave Ry

My heart aches, and a drowsy numbness pains
My sense, as though of hemlock I had drunk,
Or emptied some dull opiate to the drains
One minute past, and Lethe-wards had sunk:
'Tis not through envy of thy happy lot,
But being too happy in thine happiness,—
That thou, light-winged Dryad of the trees
In some melodious plot
Of beechen green, and shadows numberless,
Singest of summer in full-throated ease.


O, for a draught of vintage! that hath been
Cool'd a long age in the deep-delved earth,
Tasting of Flora and the country green,
Dance, and Provençal song, and sunburnt mirth!
O for a beaker full of the warm South,
Full of the true, the blushful Hippocrene,
With beaded bubbles winking at the brim,
And purple-stained mouth;
That I might drink, and leave the world unseen,
And with thee fade away into the forest dim:


Fade far away, dissolve, and quite forget
What thou among the leaves hast never known,
The weariness, the fever, and the fret
Here, where men sit and hear each other groan;
Where palsy shakes a few, sad, last gray hairs,
Where youth grows pale, and spectre-thin, and dies;
Where but to think is to be full of sorrow
And leaden-eyed despairs,
Where Beauty cannot keep her lustrous eyes,
Or new Love pine at them beyond to-morrow.


Away! away! for I will fly to thee,
Not charioted by Bacchus and his pards,
But on the viewless wings of Poesy,
Though the dull brain perplexes and retards:
Already with thee! tender is the night,
And haply the Queen-Moon is on her throne,
Cluster'd around by all her starry Fays;
But here there is no light,
Save what from heaven is with the breezes blown
Through verdurous glooms and winding mossy ways.


I cannot see what flowers are at my feet,
Nor what soft incense hangs upon the boughs,
But, in embalmed darkness, guess each sweet
Wherewith the seasonable month endows
The grass, the thicket, and the fruit-tree wild;
White hawthorn, and the pastoral eglantine;
Fast fading violets cover'd up in leaves;
And mid-May's eldest child,
The coming musk-rose, full of dewy wine,
The murmurous haunt of flies on summer eves.


Darkling I listen; and, for many a time
I have been half in love with easeful Death,
Call'd him soft names in many a mused rhyme,
To take into the air my quiet breath;
Now more than ever seems it rich to die,
To cease upon the midnight with no pain,
While thou art pouring forth thy soul abroad
In such an ecstasy!
Still wouldst thou sing, and I have ears in vain—
To thy high requiem become a sod.


Thou wast not born for death, immortal Bird!
No hungry generations tread thee down;
The voice I hear this passing night was heard
In ancient days by emperor and clown:
Perhaps the self-same song that found a path
Through the sad heart of Ruth, when, sick for home,
She stood in tears amid the alien corn;
The same that oft-times hath
Charm'd magic casements, opening on the foam
Of perilous seas, in faery lands forlorn.


Forlorn! the very word is like a bell
To toll me back from thee to my sole self!
Adieu! the fancy cannot cheat so well
As she is fam'd to do, deceiving elf.
Adieu! adieu! thy plaintive anthem fades
Past the near meadows, over the still stream,
Up the hill-side; and now 'tis buried deep
In the next valley-glades:
Was it a vision, or a waking dream?
Fled is that music:—Do I wake or sleep?


Dedicated to John Keats

Sya'ir Dhuhaa


Yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada
Yang terbayang jauh bukan berarti tidak mendekat
Yang terangan tinggi bukan berarti tidak nyata
Yang ada bukan berarti tidak akan diminta

Kemudian…

Yang mendesah tidak terus resah karena ada asa
Yang menjeri tidak selalu nyeri karena ada masa
Yang membasah tidak diam bersedih karena ada doa
Yang tidak ada bukan berarti tidak bisa diminta

Kemudian…

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu
daripada yang sekarang (permulaan)
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,
lalu (hati) kamu menjadi puas

Sekeranjang Hidayah

09 November 2015
Posted by Ave Ry

“Seandainya Hidayah itu bisa aku beli, maka akan ku beli berkeranjang-keranjang untuk aku bagi-bagikan kepada mereka orang-orang yang aku cintai.”
~ Imam Syafi’i Rahimahullah

Dear Diary,

Apakah kau tahu jika antara kecintaan dan kebencian hanya terpisah selapis ari? Ia hanya dibatasi oleh apa yang disebut rasa, dan rasa terletak didalam qalbu. Dan qalbu, walaupun terbentuk dari bahan yang sama, namun memiliki jenis yang berbeda.

Aku akan menceritakan satu jenis saja, Diary. Sejenis qalbu yang telah tercelup keimanan didalamnya, In syaa Allah. Ia berdenyut seirama lantunan doa, harapnya tiada lepas bergantung pada seutas tali Ilahi.

Kebahagiaannya menyemburat tatkala mendapati qalbu-qalbu lain -yang terkasih- melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Rabb Pemilik Arasy Yang Tinggi. Kebenciannya menyeruak ketika melihat Rabb Yang Maha Suci dikhianati. Lebih perih rasanya -jika kau dapat merasakannya- daripada kau aliri luka dengan perasan air asam.

Ya, sebatas itulah bahagia dan bencinya.

Teramat sangat inginnya ; menyatu seluruh keluarga, karib, kerabat dan handai taulan dalam ketaatan kepada Rabb yang tiada bercela. Betapapun terlihat mustahil, namun kepada Rabb Sang Pemilik Qalbu ia meminta.

“Semoga Allah berkenan menampakkan pada seorang hamba ketaatan istrinya, saudara, serta anak-anaknya. Demi Allah tiada yang lebih mahal dan teduh dalam pandangan seorang Muslim (qurratu a’yun) kecuali melihat orang-orang yang dicintainya juga taat beribadah kepada Allah.”  ~ Imam Hasan al-Bashri



Two Polar Heart

08 Oktober 2015
Posted by Ave Ry

And what else should I say? My heart froze and my mind already murky. I do not want to hate but this situation makes me shackled. I'm tired of being in the circle that is I hate long ago.

If the word 'if' is allowed, but I should not say 'if'. Only to God I will invoke the sacred heart, a lack of trust and bound soul

"I do not want to hate, then reassure my soul, by putting Your hand on any matters of my life"


Sabar itu menuntut sepenuh waktu, sebanyak pikiran, sebesar usaha & semurni keikhlasan.. Karena pahala yang dijanjikan lebih dari yang di-inderakan

Teman Yang Ideal

31 Agustus 2015
Posted by Ave Ry

أُحِبُّ مِنَ الاِخْوَانِ كُلَّ مُوَاتِي
وَكُلَّ غَضِيْضِ الطَّرْفِ عَنْ عَثَرَتِي

Aku mendambakan teman yang sehidup semati,
mau merahasiakan kesalahan-kesalahan pribadiku.

يُوَافِقُنِي فِي كُلِّ أَمْرٍ أُرِيْدُهُ
وَيَحْفَظُنِي حَيًّا وَبَعْدَ مَمَاتِي

Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku
dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup atau selepas aku mati.

فَمَنْ لِي بِهَذَا؟ لَيْتَ أَنِّي أَصَبْتُهُ
لَقَاسَمْتُهُ مَالِى مِنَ الحَسَنَاتِ

Siapakah yang bisa berbuat begitu?
Bila aku menemukan teman yang seperti itu, tentu akan kuberikan apa saja yang kumiliki.

صَفَّحْتُ اِخْوَانِى فَكَانَ أَقَلَّهُمْ
عَلَى كَثْرَةِ الاِخْوَانِ أَهْلَ ثِقَاتِى

Aku telah banyak bergaul dengan teman-temanku,
namun yang dapat kupercaya hanya sebagian kecil dari kebanyakan mereka.

~ Diwan As-Syafi’i ~



Perahu Kehidupan


Apakah karena hujan perahu tak melaju?
Apakah karena gelap hingga tak melangkah?
Apakah langit meruntuh maka manfaat tak lagi dibuat?
Apakah DIA tiada kemudian tak percaya?

Persiapkanlah kayuh karena sebentar kemudian langit kan cerah
Mulailah melangkah karena setelah gelap malam, terang siang kan menjelang
Berbuatlah, langitmu masih tegak
Dan meskipun kau tak percaya, DIA selalu ada



Seru-seruan Bareng

14 Mei 2015
Posted by Ave Ry

Dear Diary,

Percaya tidak kalau aku bilang bahwa dulu aku pernah terenyuh sekali mendengar syair Opick yang berjudul Tombo Ati. Apa pasal? Disebabkan karena baris ke-empat dari refrainnya ;
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, Sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang Sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, Dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi
Ya, bagian berkumpullah dengan orang Sholeh. Aku ingat betul beberapa tahun lalu, tepat ketika aku sedang bersih-bersih rumah disore hari sambil mendengarkan lagu itu. Disetiap lirik, "Berkumpullah dengan orang Sholeh" hatiku selalu merasa sesak.

Aku beberapa tahun lalu sangatlah berbeda dengan saat ini. Berteman seadanya dengan teman-teman yang menyenangkan, namun entah mengapa ada yang kurang. Pikirku kala itu, "Baca Qur'an, Sholat, Puasa, Dzikir sudah. Bisa dilakukan seorang diri pula. Lalu bagaimana dengan berkumpul dengan orang-orang Sholih".

Sampai menetes air mata karena tidak dapat menyempurnakannya. Ya, karena beberapa tahun lalu aku tidak berhijab, tidak tau pengajian. Maka seperti itu pula-lah teman-temanku dulu. Masih didalam hatiku, "Bagaimana caranya Ya Allah?"

Namun ketika saat ini aku tengah membuka file "Me and My Friend" didalam Laptop, aku sungguh terkejut. Ya, terkejut karena begitu cepatnya keadaan berubah tanpa kusadari. Tiba-tiba aku sudah berada dalam lingkaran, tiba-tiba aku sering bersama-sama datang ke pengajian. Tiba-tiba...

Tiba-tiba banyak kisah untuk dibagi, bersama mereka orang-orang Sholih Inshaa Allah. Kisah yang tidak melulu menyenangkan diri kami, tetapi juga orang lainnya. Kisah berbagi dengan adik-adik manis yang telah kehilangan ayah mereka, kisah berbagi pengetahuan dengan mereka yang tengah mencari.


Semoga Allah SWT ridhoi pertemanan kami, rekatkan ukhuwah dan saling memberi manfaat. Dan kisah antara "Me and My Frends" dapat terus mengalir.









Muslimah, Bersyukurlah dalam kesabaran

30 Januari 2015
Posted by Ave Ry
“Masing-masing diri akan diuji dengan nikmat-Nya”
 Dear Diary,

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),...” An Nahl : 53

Kita terkadang lupa bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Atau dengan kata lain diuji. Hal itu tidak lain merupakan bentuk pembuktian akan penghambaan diri seseorang terhadap Rabbnya. Malah terkadang, banyak pula orang-orang yang tidak menyadari akan nikmat-Nya sehingga kelak ketika diuji mereka mempertanyakan ujian itu atas mereka. Mereka berkata, “Mengapa Kau uji aku seperti ini ya Allah?” lalu ditambah pula dengan kalimat, “Padahal hamba sudah melakukan ini dan itu”. Astaghfirullah... manusia memang tempatnya lalai, namun bukan berarti lalai itu dapat kita lestarikan dan terus berkepanjangan.

Berapa banyaknya dari para muslimah yang belum juga menemukan jodohnya, padahal jika keshalihan yang dijadikan tolak ukur, mestilah para muslimah ini berada di garis terdepan. Mereka menjaga aurat sesuai dengan perintah-Nya, mereka menjaga penghambaan diri mereka dengan ibadah untuk mengharap keridhoan-Nya, dan bahkan mereka menjaga nafsu mereka dengan mengalihkan pandangan, pikiran serta perasaan mereka dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Namun mengapa Allah malah seakan ‘mengabaikan’ mereka? Dengan tidak juga mempertemukan mereka dengan jodoh yang telah dijanjikan-Nya?

Sekali lagi, inilah bentuk kelalaian manusia. Mereka rupanya ‘lupa’ atau lalai dalam penginsyafannya. Apakah penjagaan Allah terhadap diri seseorang bukan merupakan nikmat? Betapa lancangnya seseorang yang mengatakan, “Aku sudah menjaga diriku, lantas mengapa Allah malah mengabaikanku?”. Dalam penglihatan mereka, banyak para wanita yang masa bodoh terhadap aturan agama, jangankan menutup aurat, bahkan menjaga kewajiban sholat dan puasa pun kadang tidak terlaksana, namun demikian Allah memudahkan para wanita ini dalam jodohnya. 

Lantas apanya yang salah? Kesalahan yang banyak terjadi adalah ada diantara para muslimah shalihah kufur nikmat.... mereka lalai bahwa bukan mereka yang menjaga diri mereka sendiri, namun Allah. Allah yang telah menutup rapat benteng aurat dan nafsu, Allah yang telah memudahkan dalam melaksanakan ‘amal kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Bahkan Allah yang mencondongkan hatinya, untuk mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya.

“...tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu...” Al Hujuraat : 7

Dan jika setiap nikmat itu akan diuji, maka sungguh pantas jika Allah menguji ke-terjaga-an para muslimah. Untuk membuktikan sikap tunduk penghambaan diri akan tiap taqdir yang ditetapkan atas mereka. Sikap apa yang akan diambil ketika ujian itu datang, ridhokah atau kufurkah?

Kini, pandanglah dunia dalam bentuk yang berbeda. Jika dulu kita memandang bahwa banyak wanita yang tidak taat namun dimudahkan dalam jodohnya, namun, hari ini pandanglah sekelilingmu sekali lagi. Betapa banyak para wanita yang ‘dibiarkan-Nya’, berjalan ditempat atas kualitas penghambaan mereka terhadap Allah yang ‘segitu-gitu aja’, bahkan banyak lagi para wanita yang berjalan mundur kebelakang perlahan meninggalkan hijab mereka, meninggalkan ketaatan kepada-Nya, naudzubillah.
Sekarang, masihkah kalian wahai para saudariku muslimah masih tidak bisa melihat nikmat itu dan tidak bersyukur?

Jodoh itu yaqinlah, bukan seberapa cepat ia datang, namun seberapa banyak ia menambah keimanan dan menghasilkan buah keshalihan.

Bersamamu, menuju-Nya

21 November 2014
Posted by Ave Ry
Dear Diary

Hari ini, kusambut tangannya diatas hidungku. Papa akan pergi, seperti biasa menuju kampung halamannya. “Papa pergi dulu nak” begitu sapa singkatnya. 

Kuperhatikan punggungnya ketika menjauh. Tersadar aku dari lalai, mataku perih menahan buliran air yang berjejalan keluar. 

“Pa, aku tidak ingin seterlambat itu, mengucapkan kekata aku sayang padamu.” 

Aku takut hal yang sama terjadi ketika aku tak sempat mengatakan kata sayang pada Mama dulu. 

“Pa, maafkan baktiku yang sering tidak memuaskanmu. Kata-kataku yang tidak menyenangkan hatimu.” 

Duhai Rabbi, sampaikanlah kami pada Lebaran berikutnya. Hingga bersih kami menghadap-Mu. Dan tetapkanlah, aku ingin juga menggandeng tangan papa bersama menuju surga-Mu.


Ladies, Be Gently Please!

18 November 2014
Posted by Ave Ry

”Innalloohaa rifqun yuhibbu rifq fii kulli amr“
Sesungguhnya Alloh adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara (HR Bukhori & Muslim) 

Dear Diary,

If a woman no longer has the gentleness, then what is left of her? Jika seorang wanita tak lagi memiliki kelemah-lembutan, lantas apa yang tertinggal dalam dirinya?

No judging, I was thinking!

Menemukan pribadi wanita-wanita yang keras lagi kasar dalam lakunya.Tutur kata yang kerap menyakiti, menipisnya simpati hinggakan merasa paling benar sendiri.

Sejujurnya aku sering bertanya dalam hati, "Apakah orang-orang yang kerap melakukan perbuatan buruk itu akan ada akibatnya bagi kehidupan kita?" Tentu saja ini pertanyaan bodoh! Tapi yang namanya belajar itu memang butuh proses kan? Awal tanya itu aku tidak melihat dampak apapun, tapi berlalunya waktu, dengan jelas aku melihat gambaran akibat yang berawalkan sebab.

Diary, sikap kasar itu akan menimbulkan keburukan, sebaliknya sikap lembut itu akan mendatangkan kebaikan. Bukankah Rasulullah bersabda kepada Ibunda A'isyah,

“Wahai A’isyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dan Dia memberi pada kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan Nya pada sikap kasar, dan apa yang tidak diberikan Nya pada yang lainnya.”(HR. Muslim)

Pada kajian di sebuah Radio yang kudengar pagi tadi, Ust. Yahya Badrussalam menuturkan kajian tentang Fiqh Akhlaq yang berkaitan dengan Ar Rifq ini, kelemah-lembutan. Padahal dari sejak kemarin aku sudah gatal ingin menulis tentang ini. Dan seperti yang bisa kau bayangkan, aku selalu senang jika ada sebuah hal perkara yang sedang kupikirkan lantas dengan 'serta-merta' hal itu terjawab, entah lewat apa saja.

Beliau, semoga Allah merahmatinya, mengatakan "Tutur kata yang lemah lembut itu adalah fithrah yang ada dalam setiap manusia. Setiap manusia ingin dirinya diperlakukan lemah-lembut. Tidak ada orang yang menginginkan seorang lain berkata-kata kasar kepadanya"

Fithrah itu senantiasa menyukai setiap kebaikan, tutur kata yang baik, sikap lemah lembut, kasih sayang, hormat menghormati, jujur, ikhlas dan segala perkara yang baik dalam diri seorang hamba adalah fithrah dan semua makhluk menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sifat lemah-lembut ini, fithrah tiap-tiap manusia. Namun tentunya, ia harus lebih besar lagi dalam diri seorang wanita. Karena dengan kelemah-lembutan ia dapat menaungi suami, orangtua, anak dan saudara-saudaranya. Sehingga dengannya mereka betah untuk bermuamalah dengan para wanita yang menghiasi dirinya dengan sifat Ar Rifq.
“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)
Ketahuilah, dengan bertutur kata yang santun lagi lemah lembut maka hal yang demikian akan mengundang kecintaan manusia kepada kita. Mungkin, ada juga sebagian manusia yang beralasan bahwa hal tersebut sudah menjadi tabiatnya sedari lahir. Namun segala sifat buruk hendaknya kita ubah, dan kemudian menggantinya dengan sifat yang lebih baik.

Tidak ada yang instan, pasti. Belajar seiring waktu dengan niat terus memperbaiki diri dengan harapan Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita kebaikan. 

“Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR. Muslim)

16 November

16 November 2014
Posted by Ave Ry
Sabtu, 16 November 2013

“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..

Sepagian aku menuju tempat dimana rinduku membuncah selama lebih dari sebulan. Tak bisa kuceritakan betapa ingin aku berada ditengah-tengah shalih-shalihah yang selama ini telah memikatku kedalam taman surganya.

Kesempatan pagi yang kupaksakan setelah lama menjelang aku tak kuasa menyambanginya. Entah mengapa keinginan itu begitu kuat. Berminggu tangan itu menarikku, mengucapkan kalimat bening bernada memohon “Ai mau kemana... jangan tinggalin mama. Mama mohon,” minggu demi minggu sungguh tak kuasa ku melepaskan. “Mama kan disini ada Papa, Diah, ada kak Depi, ada Uwa ada banyak orang disini Ma. Aku pergi sebentar aja ya Ma”. Mashaa Allah, wajah itu merengut. Dan siapakah ia yang akan mampu meninggalkan hatinya seperti itu?

“A, Ba, Ta, Tsa... ya begitu” senyumku disamping ibu yang tengah bersusah-payah melantunkan huruf hijaiyah sembari mengarahkan kacamatanya pada buku Iqro lama. Bersandar ia, lelah “Ah susah... sekarang hafal besok lupa” keluhnya. “Gak apa, asal setiap hari nanti pasti bisa”, masih senyumku menyemangati. Terkadang aku tergelitik untuk tertawa demi mendengar pengucapannya yang salah. Namun tak pernah ku keluarkan tawa itu. “Mama lihat aku dulu, nanti mama ikuti”. Begitu, waktu demi waktu.



Dan di suatu sore yang penuh berkah ia bersandar kembali setelah lelah melafalkan huruf-huruf yang telah banyak dihafal namun semakin banyak pula yang dilupakannya. Ia menatapku, dengan sayang ia bertanya entah kepada siapa karena pandangannya menembusku, “Gimana kalau gak ada...”. Tentu saja aku tahu apa maksud pertanyaan itu. “Bagaimana kalau kamu gak ada Ai, Mama belajar sama siapa?” tapi ternyata... aku terlalu bodoh untuk bisa mengartikan, “Bagaimana kalau Mama gak ada, siapa yang akan kamu ajari Ai?”


Dilain waktu, saat sakitnya meraja hingga membuat ibu tak mampu lagi beranjak dari tempat tidur ia memandangiku, “Kamu capek ya? Mengurus Mama”. Capek? Mana mungkin ada seorang anak yang capek mengurus ibunya yang tengah sakit? Padahal dulu ibunya bertaruh nyawa demi mempertaruhkan kelangsungan hidup anaknya. Namun aku tak pandai berkata-kata, sebagai ganti ucapan kuberikan senyum, kupandangi ia, kuciumi, kuusap kepalanya.

“Ai kamu gak ikhlasin Mama sih”, tersentak aku dengan perkataannya. Setelah ramai tetangga, teman dan para handai taulan menjenguk. Aku memberengut. Kata-kata itu menyengatku! Aku benci kata itu, sungguh! Manakah ada seorang anak yang mengikhlaskan ibunya pergi?!

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, JIWA dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"

Seperti aku tak pernah membaca ayat ini sebelumnya... Hujamannya saat itu telak menikam. Aku menangis tersedu. Allah, IA berbicara kepadaku!

Kupandangi ia, ibuku yang sangat kucinta. Sore itu, saat ia tak lagi mampu berbicara, mengenal bahkan menerima suapan obat. Kupeluk erat, di belakang bahunya. Seperti yang selalu ingin dilihatnya. Ketika dulu ia masih mampu berbicara, “Ai gak sayang sama Mama.. Kamu gak pernah nangis. Mata kamu terbuat dari batu apa?!”

Rabbi, hanya Kau-lah yang mengetahui saat itu derai air mata tak mampu kubendung lagi. Ia yang kutahan berbulan-bulan, demi menjaga semangat ibuku karena aku ingin ia kuat maka akupun harus kuat. Tak ingin kutampilkan pedih mata dihadapannya. Namun sore itu, ya sore itu, setelah ramai sanak saudara pergi. Kupeluk ia erat yang tengah terlelap menyamping. Dipunggungnya, basah tangisku kuharap mampu meredam isak suara yang tak jua mereda.

“Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah..

Saat itu aku sudah bersiap setelah kupastikan ibu ada yang menemani, pikirku toh hanya sebentar. Ku mohon izinnya, pamitku “Ma, aku ke Bogor dulu ya, hanya sebentar”. Tidak ada kata hanya anggukan lemah.. Ia tak mampu lagi berkata, namun anggukan itu melegakanku. Alhamdulillah, ibu sudah memberi izin. Akhirnya pagi itu antara perasaan senang bisa pergi ke rumah kedua-ku, Masjid Raya Bogor dan cemas mengkhawatirkan ibuku.

Entah apa pula yang merasuki-ku kala itu. Berpagi aku sudah menuju. Pikiranku terbelah, do’a yang dilantunkan bersama sahabat tidak juga bisa membuatku tenang. Kemudian telepon genggamku berdering, “Kak, pulang kak” lantas mati. Jantungku berdegup kencang, namun ku hentikan aktifitas pikirku. Aku mohon izin untuk pulang lebih dulu dari yang lain. Di jalan papa menelepon, “Nak, pulang sayang. Sekarang” sungguh, aku benar-benar mematikan pikirku. Aku bergerak laksana mayat hidup.

Mengapa angkutan ini lama sekali! Mengapa kereta tak juga kunjung datang. Ditengah menggilanya perasaanku, kakak menelepon, berulang “Ai... Mama Ai...” Klik, kumatikan!
Berlarian aku menuju rumah, adikku, si bungsu menjemput mengambil alih tas.

Rabbi....

Ia disana, ibuku terbaring tak lagi bernyawa. Ditengah hilir mudik tetangga yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Mungkin tak pernah, dan memang tak pernah dan kuharap tak akan pernah. Tangis yang begitu mengguncang. Allah, Allah, Allah... jiwaku bertalu-talu, Allah, Allah, Allah. Kamu belum zhuhur Ai! Sadarku memperingati.

Kubasahi wajah berwudhu, dan tak pernah, kurasakan zhuhur yang begitu berat. Takbir, ruku’ dan sujud berbasah mengguncang seluruh tubuhku.

“Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah... Irji’ii ila Robbiki rodhiyatam mardhiyyah, fad khuli fii ‘ibadi wad khuli jannati...”

Kalimat itu, Wallahi... Kulantunkan dengan harapan, Allah, Yang Memiliki fajr juga meng-Kalam-kan ayat yang sama, kepadamu ibuku.



Sabtu 15 November 2014

“Nak, kamu gak ke Bogor?” Papa membuka percakapan pagi tadi. “Gak Pa”, jawabku singkat.

Sepagian aku menuju warung penjual sayur. Berbelanja lantas memasak, berbenah. Aku bingung hendak melakukan apa. Jiwaku tidak bergerak kemanapun jua. Semua rencana yang telah kususun, acara yang akan kudatangi tidak menarik minat hati.

Mama, aku rindu...

Hari ini, genap setahun sudah kau mendahului kami.

Ahad 16 November

You went so soon

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”

I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong

But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return

You left so soon





Barakallahu Laka

12 Oktober 2014
Posted by Ave Ry
Dear Diary,

Kau tau Dy, scenario yang paling manis itu adalah ketika para pelakonnya memang berkompeten. Rancangan cerita yang membuahkan kenangan terindah. Semanis dua cup kopi hitam. Hitam pekat dan pahitnya tidak mampu mengalahkan kenangan rasa manis yang dikecap. 

Hari sabtu, hari ketujuh yang aku yakin akan menjadi kenangan terindah bagi sahabat manisku Nei. Si bunga matahari yang mencerahkan hari. Gayanya yang gaul menghiasi wajahnya yang cerah dalam balutan busana pengantin muslimah yang anggun. Pun ketika kamera meng-capture gambarnya, aura cerah itu menaungi. 

DIA telah memberi setetes manisnya Rahmat kepadamu, sahabatku, saudariku. Yang dengannya wajahmu penuh dengan cahaya kebahagiaan. Skenario manis atas buah dari taatmu, sujud-sujud panjangmu, dan baik sangkamu. 

Para siswi yang melantunkan lagu romantic untuk guru tercinta mereka, para tamu undangan yang menghaturkan doa-doa dengan sumringah, cuaca cerah, semuanya berjalan lancar. 

Mungkin sahabatku itu tidak melihat Dy, saat mataku menjadi penuh dengan buliran air. Menyaksikan betapa manisnya DIA mengguratkan cerita pernikahan itu baginya. Lagu itu, “Kenangan Terindah”, entah mengapa dipilih mereka. Ya, menjadi guru adalah barakah. Apalagi jika sang guru menebarkan juga rasa cinta pada-NYA. Kau akan melihat betapa manisnya mereka akan bersikap padamu.

Ah, aku jadi teringat cita-citaku, menjadi guru. Tapi ketika kesempatan itu datang aku malah menolaknya. Dan aku tidak menyesal, ya karena menjadi guru ternyata bukanlah sebuah cita-cita kosong. Namun ia adalah kerja dakwah, dan aku, kau pasti tau, belum siap untuk itu. Dan DIA, pasti lebih tau bukan? 

Petuah Ustadz itu memang benar kan Dy? Everything happens for a reason... Segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki alasan. Terdapat hikmah dibalik tiap cerita. Dan ceritaku masih belum beranjak ke tahap selanjutnya, alasannya? Aku masih memiliki tugas, tanggung jawab... Menjadi ibu dari adik-adikku, menjadi anak yang berbakti bagi ayahku.

Kehidupan bergulir bagai lembaran cerita, silih berganti menjadi sebuah novela. Jadi, dari pada kita menghabiskan lembar dengan termangu digerus waktu, mengapa tidak kita coretkan kisah indah bersama senyuman taqwa?


بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ.
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.”

Closed Gate

28 Mei 2014
Posted by Ave Ry

Aku akan membiasakan, gerbang itu akan mulai kututup
Tidak hendak menunggu
Aku akan membiasakan, meredam dentang jam
Tidak hendak memperdulikan

Satu rasa tak percaya
Mengapa menjauh itu menjadi dekat?
Padahal waktuku denganmu hanya berdentang hari?

Namun aku selalu tidak bisa membenci
Selalu luluh amarahku melihat terik lelahmu, derai airmatamu

Dan kesabaran yang baiklah, aku akan membiasakan

Hey You, I'm Curious!

30 April 2014
Posted by Ave Ry
Dear you,

Aku penasaran...
Ya, kata ini baru saja menggantung dibenakku. Apa pasal? Tentu saja dari pikirku  yang tidak pernah berhenti menggelayut. Sahabat karib, sahabat, teman-temanku silih berganti meninggalkan jejak langkah mereka di persimpangan jalan.

Dan kau tau, hal itu sangat menarik perhatianku. Masing-masing menggamit teman hidupnya, cermin dirinya. Aku sedikit demi sedikit mulai paham bagaimana DIA memasangkan dua belah hati dalam satu tempat. "Kamu adalah cerminan pasanganmu". Ya, pepatah yang tidak pernah kuhiraukan ini semakin lama membuatku tertarik, sekaligus khawatir.

Dia yang terbuka akan bergandengan tangan dengan si penerima. Dia yang kaku dipasangkan dengan si beku. Lalu si kasar ditakdirkan dengan si pengumbar. Ah, DIA memang menarik, jalan yang dibuat-Nya makin membuatku tertarik.
Sempat berkerut keningku ketika dulu kebutaanku menghalangi dari melihat keadaan ini. Bahkan sempat bersungut-sungut, "Bagaimana bisa?". Ternyata serasi, sesuai, apalagi sekufu, bukanlah kita yang menentukan, tapi DIA.

Itulah dia yag membuatku tertarik sekaligus khawatir. Tertarik membayangkan seperti apa kiranya cerminan diriku? Pengkritik, pemikir atau perfeksionis. Atau bisa saja si penggerutu! Atau mungkin si pemalu? Hmm, benarkan? Kurasa kau juga penasaran. Lalu khawatir itu bermunculan... Bagaimana jika kau mendapatiku tidak sebaik yang kau inginkan? Bagaimana jika aku tidak semenarik yang kau bayangkan?

Hey kau, Aku sungguh penasaran!

Tapi penasaran ini akan tetap kujaga sampai DIA menyatukan belah hati kita pada tempatnya. Sebelum itu aku akan terus belajar, memperhatikan dan memperbaiki. Karena aku yakin DIA memiliki cara yang menarik untuk menyatukan kita. Semenarik cara yang dibuat-Nya agar aku melihat.

I don't know your name, but I can feel you in my chest.

I don't know your face, but I know of your light as it shines from within me.

I don't know the time, nor the place where I will meet you, but I know it will happen someday.

Sang Penjamin

20 April 2014
Posted by Ave Ry

“Mengapa kau mengkhawatirkannya, sedang ia memiliki Penjamin?”

Dear, Diary

Katakan aku bodoh, diantara riuh kegembiraan tertahan setitik air yang hampir tertumpah dari pelupuk mataku. Ucapan selamat itu, sungguh, tulus kuhaturkan. Tapi air mata yang hampir jatuh ini pun tidak berbohong. Entah apa namanya, aku tak tahu, maka katakan aku bodoh.

Dalam sela aku memikirkan mereka, sahabat-sahabatku. Keadaan mereka, susah dan perih yang coba kurasa. Tertimbul tanya, “Ya Rabb, bagaimana keadaan mereka? Mereka adalah shalihat…” dan selain doa juga usaha ku kerahkan untuk mencoba membantu.

Namun baru hari ini, aku tak kuasa menahan malu saat DIA kembali menyindirku, “Mengapa kau mengkhawatirkan mereka? Tidakkah kau tahu mereka memiliki Penjamin?”

Kelu hatiku… betapa naifnya selama ini menyangsikan bahkan menyisihkan keberadaan-Nya. Terlupa jika DIA adalah Sang Penjamin. Jika jodoh adalah rizqi, maka Allah-lah yang menjamin keberadaannya.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Huud : 6)

Dan hujan yang tertumpah hari ini semoga membasuh hatiku, sekali lagi. Membasuh kealpaan, menumbuhkan keyakinan. Bahwa aku dan kehidupan telah dijamin. Cukup Allah saja penjamin kehidupanku, keamanan, dan rezeki ku.... Bukan karena begitu lemahnya kekuatanku, tapi diri ini ingin melihat seyakin apa ia terhadap Tuhan-Nya.

“Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari mereka yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin : 36)

Grow Up!

03 Februari 2014
Posted by Ave Ry

Kau tahu apa yang disebut dewasa itu?

Artinya melihat bukan sekadar dengan mata tapi juga dengan kepala dan hati

Artinya bukan hanya melihat diri sendiri tapi juga memaksimalkan kepekaan diri

Hidup ini bukan melulu tentang kita, tapi juga tentang mereka

Ketika kita melihat air tidak mengalir, tidaklah cukup mengatakannya tidak mengalir

Pikirkanlah mengapa ia berhenti, dan rasakanlah dengan hati lalu kita akan mengetahui bukan hanya sebab tapi solusi

Jika saja menjadi dewasa hanya bertumbuhnya fisik, maka  seekor kelinci tidak akan lebih baik dari kita

Sikap bijaksanalah dan tidak bersikap egois memikirkan kepentingan sendiri yang membuat pertumbuhan kita bernilai

I was never be, I never want to
If I could choose, I wanna stay young forever
If I could choose, I wanna as perfect as possible
But I never get choice, the life took me
As I’m...

I Love You

28 Januari 2014
Posted by Ave Ry

Biarlah daun-daun itu berguguran
Siapakah yang hendak menyadarkan sebatang jiwa hampa
Ia bertegak, berlapang menopang, merindangi embun tak berhenti
Kala ramai ia bersahut penuh suara
Namun tercekat memecahkan bongkah asa ketika hening
Jika saja segunung benda, selangit karya ia punya
Niscaya akan ditukarnya dengan seulas senyum bening milik Mama

Dear diary,

Apakah kau setuju jika kubilang, “Aku tidak memiliki waktu, jadi mengapa tidak kulakukan sekarang?”.

Dalam imajinasiku sedari dulu seringkali aku menginginkan berputarnya waktu agar kembali semula, agar dapat kuperbaiki, kubenahi. Tapi seringnya imajinasi seperti itu hanya menyakiti saja. Banyak hal yang ingin aku ulang karena setelah bertahun penyesalan baru datang.

Perputaran waktu yang tak kenal perasaan membuatku terjebak dalam lubang waktu. Ingin kembali dan takut menanti. Padahal semakin banyak kuhabiskan waktu berkutat dalam lubang, semakin penyesalan tak kunjung hilang.

Tapi jika diberi satu saja kesempatan, maka aku akan melakukan satu hal yang tak pernah terucapkan walaupun sepenuh jiwa ini terisi olehnya. Aku menyesal menjadi orang yang lemah dalam merasa dan lambat dalam berkata.

Tiap helaan nafasku adalah perjuangannya, Mama. Sesosok rapuh yang diperkenalkan oleh-Nya. Sesosok rapuh yang menaungiku dengan tangis, menghiba memohon belas kasih agar aku dan adik-adikku dapat mengisi kerongkongan kami, tidak berkekurangan.

Aku sadar, tapi tak mengetahui

Tiap aliran darahku adalah kesabarannya, Mama. Sesosok rapuh yang terjalin Rahim dari-Nya. Sesosok rapuh yang tidak perduli cerca, sendirian memeluk kami dalam duka. Menjaga kami dari mereka yang menyakiti, melukai.

Aku sadar, tapi tak beraksi

Tiap detak jantungku adalah kasih sayangnya, Mama. Sesosok rapuh yang berpegangan kuat pada-Nya. Sesosok rapuh yang mengisi hariku dengan petuah, meneladani sifat bukan sekadar berkata. Mengisi ingatanku dengan limpahan makna, mencurahi segenap tenaga tanpa dirasa.

Aku sadar, tapi tak berbakti

Setelah kesudahan, memang begitu seperti kebiasaan dicipta. Penyesalan merambat karena dalam sadar tak mengetahui, tak beraksi dan tak berbakti. Setelah sesosok rapuh itu dipanggil menghadap-Nya. Yang dengan rapuhnya membuatnya lebih dicintai, karena rapuh yang ia rasa hanya ditunjukan pada DIA, Sang Maha.

Aku ingin memintamu kembali, tapi DIA lebih mencintai Mama. Aku ingin meluluskan permintaanmu yang tertunda, tapi DIA lebih memiliki banyak untuk diberi. Aku ingin melayanimu lebih lama, tapi DIA memiliki pelayan bak mutiara.

Dan pasti Sang Pemilik Batas membaca. DIA Melihat lebih banyak dari yang tertulis. Bahwa disini seorang anak manusia merindui, menunggu bagaimana caranya agar kalimat ini dapat terucap dihadapan ibunya,

“Aku sayang Mama...”

Segenap kasihku yang tidak akan pernah pantas mengembalikan jerih payahmu. Setetes air yang jatuh ini tidak akan sanggup menggantikan lelahmu. Namun hanya secarik do’a yang dapat kulantunkan, Rabbigh firli wali walidayya warham huma kama Rabbayani soghiro

Year Of Hope


Dear diary,

I’m not a Jew who hates the number of ‘13’, not even a Chinese who believes the unlucky number of ‘13’. But I do, I don’t like the number of ‘13’. And it is, 2013 the year of grief.

Terlalu banyak memory buruk disana, terlalu banyak airmata. Mendesakku ke ujung titik kulminasi dimana hampir-hampir kesedihan itu membuatku gila. Tahun yang mengoyak isi perutku dan menjungkir balikkan kepalaku. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak, kehilangan ibu.
Bagi yang sudah pernah mengalami, maka kau tahu seperti apa rasanya. Tapi bagi yang belum mengalami maka kau tidak akan pernah dapat membayangkannya
Dan peristiwa yang mengiringi akhir tahun 2013 semakin menumpuk, salah satunya kehilangan pekerjaan.

Namun terlarut dalam kesedihan bukanlah akhlaq yang baik. Aku teringat satu ayat selurut umat,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,

 إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Dalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.” Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.

Allah Ta’ala berfirman,

 سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)

Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.” Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.” Rasulullah bersabda, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً “Bersama kesulitan, ada kemudahan.” Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Nah, bukankah Allah Subhana wa Ta’ala sendiri sudah menjanjikan? Tepat di akhir Januari awal tahun 2014 ini aku diterima bekerja, bahkan ditempat dan lingkungan yang lebih baik. Aku akan dapat mendengar anak-anak manis seharian dan juga guru-guru yang bersahaja. And guess what? Satu hal yang membuat dada ini berdegup penuh semangat dengan senyum menghias. Buku pertamaku akan segera terbit! Subahanallah… Awal tahun yang penuh harapan