Teman Yang Ideal
أُحِبُّ مِنَ الاِخْوَانِ كُلَّ مُوَاتِي
وَكُلَّ غَضِيْضِ الطَّرْفِ عَنْ عَثَرَتِي
Aku mendambakan teman yang sehidup semati,
mau merahasiakan kesalahan-kesalahan pribadiku.
يُوَافِقُنِي فِي كُلِّ أَمْرٍ أُرِيْدُهُ
وَيَحْفَظُنِي حَيًّا وَبَعْدَ مَمَاتِي
Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku
dan yang menjaga nama baikku ketika aku hidup atau selepas aku mati.
فَمَنْ لِي بِهَذَا؟ لَيْتَ أَنِّي أَصَبْتُهُ
لَقَاسَمْتُهُ مَالِى مِنَ الحَسَنَاتِ
Siapakah yang bisa berbuat begitu?
Bila aku menemukan teman yang seperti itu, tentu akan kuberikan apa saja yang kumiliki.
صَفَّحْتُ اِخْوَانِى فَكَانَ أَقَلَّهُمْ
عَلَى كَثْرَةِ الاِخْوَانِ أَهْلَ ثِقَاتِى
Aku telah banyak bergaul dengan teman-temanku,
namun yang dapat kupercaya hanya sebagian kecil dari kebanyakan mereka.
~ Diwan As-Syafi’i ~
~ Diwan As-Syafi’i ~
Perahu Kehidupan
Apakah karena hujan perahu tak melaju?
Apakah karena gelap hingga tak melangkah?
Apakah langit meruntuh maka manfaat tak lagi dibuat?
Apakah DIA tiada kemudian tak percaya?
Persiapkanlah kayuh karena sebentar kemudian langit kan cerah
Mulailah melangkah karena setelah gelap malam, terang siang kan menjelang
Berbuatlah, langitmu masih tegak
Dan meskipun kau tak percaya, DIA selalu ada
Seru-seruan Bareng
Dear Diary,
Percaya tidak kalau aku bilang bahwa dulu aku pernah terenyuh sekali mendengar syair Opick yang berjudul Tombo Ati. Apa pasal? Disebabkan karena baris ke-empat dari refrainnya ;
Obat hati ada lima perkaranyaYa, bagian berkumpullah dengan orang Sholeh. Aku ingat betul beberapa tahun lalu, tepat ketika aku sedang bersih-bersih rumah disore hari sambil mendengarkan lagu itu. Disetiap lirik, "Berkumpullah dengan orang Sholeh" hatiku selalu merasa sesak.
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, Sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang Sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, Dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi
Aku beberapa tahun lalu sangatlah berbeda dengan saat ini. Berteman seadanya dengan teman-teman yang menyenangkan, namun entah mengapa ada yang kurang. Pikirku kala itu, "Baca Qur'an, Sholat, Puasa, Dzikir sudah. Bisa dilakukan seorang diri pula. Lalu bagaimana dengan berkumpul dengan orang-orang Sholih".
Sampai menetes air mata karena tidak dapat menyempurnakannya. Ya, karena beberapa tahun lalu aku tidak berhijab, tidak tau pengajian. Maka seperti itu pula-lah teman-temanku dulu. Masih didalam hatiku, "Bagaimana caranya Ya Allah?"
Namun ketika saat ini aku tengah membuka file "Me and My Friend" didalam Laptop, aku sungguh terkejut. Ya, terkejut karena begitu cepatnya keadaan berubah tanpa kusadari. Tiba-tiba aku sudah berada dalam lingkaran, tiba-tiba aku sering bersama-sama datang ke pengajian. Tiba-tiba...
Semoga Allah SWT ridhoi pertemanan kami, rekatkan ukhuwah dan saling memberi manfaat. Dan kisah antara "Me and My Frends" dapat terus mengalir.
Muslimah, Bersyukurlah dalam kesabaran
“Masing-masing diri akan diuji dengan nikmat-Nya”
Dear Diary,
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),...” An Nahl : 53
Kita terkadang lupa bahwa nikmat yang diberikan Allah pada kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Atau dengan kata lain diuji. Hal itu tidak lain merupakan bentuk pembuktian akan penghambaan diri seseorang terhadap Rabbnya. Malah terkadang, banyak pula orang-orang yang tidak menyadari akan nikmat-Nya sehingga kelak ketika diuji mereka mempertanyakan ujian itu atas mereka. Mereka berkata, “Mengapa Kau uji aku seperti ini ya Allah?” lalu ditambah pula dengan kalimat, “Padahal hamba sudah melakukan ini dan itu”. Astaghfirullah... manusia memang tempatnya lalai, namun bukan berarti lalai itu dapat kita lestarikan dan terus berkepanjangan.
Berapa banyaknya dari para muslimah yang belum juga menemukan jodohnya, padahal jika keshalihan yang dijadikan tolak ukur, mestilah para muslimah ini berada di garis terdepan. Mereka menjaga aurat sesuai dengan perintah-Nya, mereka menjaga penghambaan diri mereka dengan ibadah untuk mengharap keridhoan-Nya, dan bahkan mereka menjaga nafsu mereka dengan mengalihkan pandangan, pikiran serta perasaan mereka dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Namun mengapa Allah malah seakan ‘mengabaikan’ mereka? Dengan tidak juga mempertemukan mereka dengan jodoh yang telah dijanjikan-Nya?
Sekali lagi, inilah bentuk kelalaian manusia. Mereka rupanya ‘lupa’ atau lalai dalam penginsyafannya. Apakah penjagaan Allah terhadap diri seseorang bukan merupakan nikmat? Betapa lancangnya seseorang yang mengatakan, “Aku sudah menjaga diriku, lantas mengapa Allah malah mengabaikanku?”. Dalam penglihatan mereka, banyak para wanita yang masa bodoh terhadap aturan agama, jangankan menutup aurat, bahkan menjaga kewajiban sholat dan puasa pun kadang tidak terlaksana, namun demikian Allah memudahkan para wanita ini dalam jodohnya.
Lantas apanya yang salah? Kesalahan yang banyak terjadi adalah ada diantara para muslimah shalihah kufur nikmat.... mereka lalai bahwa bukan mereka yang menjaga diri mereka sendiri, namun Allah. Allah yang telah menutup rapat benteng aurat dan nafsu, Allah yang telah memudahkan dalam melaksanakan ‘amal kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Bahkan Allah yang mencondongkan hatinya, untuk mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya.
“...tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu...” Al Hujuraat : 7
Dan jika setiap nikmat itu akan diuji, maka sungguh pantas jika Allah menguji ke-terjaga-an para muslimah. Untuk membuktikan sikap tunduk penghambaan diri akan tiap taqdir yang ditetapkan atas mereka. Sikap apa yang akan diambil ketika ujian itu datang, ridhokah atau kufurkah?
Kini, pandanglah dunia dalam bentuk yang berbeda. Jika dulu kita memandang bahwa banyak wanita yang tidak taat namun dimudahkan dalam jodohnya, namun, hari ini pandanglah sekelilingmu sekali lagi. Betapa banyak para wanita yang ‘dibiarkan-Nya’, berjalan ditempat atas kualitas penghambaan mereka terhadap Allah yang ‘segitu-gitu aja’, bahkan banyak lagi para wanita yang berjalan mundur kebelakang perlahan meninggalkan hijab mereka, meninggalkan ketaatan kepada-Nya, naudzubillah.
Sekarang, masihkah kalian wahai para saudariku muslimah masih tidak bisa melihat nikmat itu dan tidak bersyukur?
Jodoh itu yaqinlah, bukan seberapa cepat ia datang, namun seberapa banyak ia menambah keimanan dan menghasilkan buah keshalihan.
Bersamamu, menuju-Nya
Dear Diary,
Hari ini, kusambut tangannya diatas hidungku. Papa akan pergi, seperti biasa menuju kampung halamannya. “Papa pergi dulu nak” begitu sapa singkatnya.
Kuperhatikan punggungnya ketika menjauh.
Tersadar aku dari lalai, mataku perih menahan buliran air yang berjejalan keluar.
“Pa, aku tidak ingin seterlambat itu, mengucapkan kekata aku sayang padamu.”
Aku takut hal yang sama terjadi ketika aku tak sempat mengatakan kata sayang pada Mama dulu.
“Pa, maafkan baktiku yang sering tidak memuaskanmu. Kata-kataku yang tidak menyenangkan hatimu.”
Duhai Rabbi, sampaikanlah kami pada Lebaran berikutnya. Hingga bersih kami menghadap-Mu. Dan tetapkanlah, aku ingin juga menggandeng tangan papa bersama menuju surga-Mu.
Ladies, Be Gently Please!
”Innalloohaa rifqun yuhibbu rifq fii kulli amr“
Sesungguhnya Alloh adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara (HR Bukhori & Muslim)
Dear Diary,
If a woman no longer has the gentleness, then what is left of her? Jika seorang wanita tak lagi memiliki kelemah-lembutan, lantas apa yang tertinggal dalam dirinya?
No judging, I was thinking!
Menemukan pribadi wanita-wanita yang keras lagi kasar dalam lakunya.Tutur kata yang kerap menyakiti, menipisnya simpati hinggakan merasa paling benar sendiri.
Sejujurnya aku sering bertanya dalam hati, "Apakah orang-orang yang kerap melakukan perbuatan buruk itu akan ada akibatnya bagi kehidupan kita?" Tentu saja ini pertanyaan bodoh! Tapi yang namanya belajar itu memang butuh proses kan? Awal tanya itu aku tidak melihat dampak apapun, tapi berlalunya waktu, dengan jelas aku melihat gambaran akibat yang berawalkan sebab.
Diary, sikap kasar itu akan menimbulkan keburukan, sebaliknya sikap lembut itu akan mendatangkan kebaikan. Bukankah Rasulullah bersabda kepada Ibunda A'isyah,
“Wahai A’isyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dan Dia memberi pada kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan Nya pada sikap kasar, dan apa yang tidak diberikan Nya pada yang lainnya.”(HR. Muslim)
Pada kajian di sebuah Radio yang kudengar pagi tadi, Ust. Yahya Badrussalam menuturkan kajian tentang Fiqh Akhlaq yang berkaitan dengan Ar Rifq ini, kelemah-lembutan. Padahal dari sejak kemarin aku sudah gatal ingin menulis tentang ini. Dan seperti yang bisa kau bayangkan, aku selalu senang jika ada sebuah hal perkara yang sedang kupikirkan lantas dengan 'serta-merta' hal itu terjawab, entah lewat apa saja.
Beliau, semoga Allah merahmatinya, mengatakan "Tutur kata yang lemah lembut itu adalah fithrah yang ada dalam setiap manusia. Setiap manusia ingin dirinya diperlakukan lemah-lembut. Tidak ada orang yang menginginkan seorang lain berkata-kata kasar kepadanya"
Fithrah itu senantiasa menyukai setiap kebaikan, tutur kata yang baik, sikap lemah lembut, kasih sayang, hormat menghormati, jujur, ikhlas dan segala perkara yang baik dalam diri seorang hamba adalah fithrah dan semua makhluk menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Sifat lemah-lembut ini, fithrah tiap-tiap manusia. Namun tentunya, ia harus lebih besar lagi dalam diri seorang wanita. Karena dengan kelemah-lembutan ia dapat menaungi suami, orangtua, anak dan saudara-saudaranya. Sehingga dengannya mereka betah untuk bermuamalah dengan para wanita yang menghiasi dirinya dengan sifat Ar Rifq.
“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)Ketahuilah, dengan bertutur kata yang santun lagi lemah lembut maka hal yang demikian akan mengundang kecintaan manusia kepada kita. Mungkin, ada juga sebagian manusia yang beralasan bahwa hal tersebut sudah menjadi tabiatnya sedari lahir. Namun segala sifat buruk hendaknya kita ubah, dan kemudian menggantinya dengan sifat yang lebih baik.
Tidak ada yang instan, pasti. Belajar seiring waktu dengan niat terus memperbaiki diri dengan harapan Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita kebaikan.
“Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR. Muslim)











